Probolinggo,– Sejumlah penghuni Rusunawa Bestari Kota Probolinggo, mempertanyakan perubahan status desil kesejahteraan, yang kini menjadi polemik nasional.

Di tengah kondisi ekonomi yang pas-pasan, bahkan ada warga yang bekerja sebagai pedagang keliling dan pengayuh becak, status desil warga penghuni rusunawa justru naik jadi 6 hingga 10.

Rusunawa Bestari yang berada di Kelurahan Mangunharjo Kecamatan Mayangan sendiri dihuni sekitar 100 kepala keluarga. Sebagian besar penghuni, berada dalam kondisi ekonomi terbatas.

Mereka umumnya tidak memiliki rumah maupun tanah sendiri dan mengandalkan pekerjaan informal seperti pemulung, buruh tani, nelayan, pedagang kecil hingga pekerja serabutan.

Dalam beberapa waktu terakhir pasca pembaruan data, sekitar 80 persen warga yang awalnya masuk dalam kelompok desil 1 hingga 5, kini status desil mereka naik menjadi 6 hingga 10.

Salah satu penghuni yang mengalami perubahan status desil adalah Tutik Widyastuti (60). Sehari-hari, Tutik berjualan sayur keliling di lingkungan rusunawa.

Namun, ia tidak setiap hari berjualan karena harus menunggu kiriman sayur dari suaminya untuk dijual kembali.

“Saya tidak tahu kalau desil saya sudah naik. Sejak tinggal di rusunawa sekitar tahun 2010-an, saya juga belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah,” kata Tutik, Rabu (9/9/26).

Keluhan serupa disampaikan Joko Slamet (48), penghuni rusunawa yang sehari-hari bekerja sebagai pengayuh becak. Saat mengecek melalui aplikasi, status desil miliknya justru tidak diketahui atau tercatat ‘Null’.

Ironisnya, Joko mengaku selama ini belum pernah menerima bantuan sosial. Kenaikan status desil, membuat peluangnya menerima bansos kian tertutup rapat.

Penghasilan saya tidak menentu, tergantung ada penumpang atau tidak. Selama ini saya juga belum pernah mendapat bantuan sosial. Harapannya, data warga yang memang membutuhkan bisa diperiksa kembali,” ujar Joko.

Ketua RW 17 Rusunawa Bestari, Rusdi Hamzah, mengaku sebelum adanya perubahan data terdapat sekitar 40 kepala keluarga yang menerima bantuan sosial.

Namun, setelah terjadi pembaruan data, jumlah penerima bantuan kini berkurang menjadi hanya sekitar 15 kepala keluarga.

“Beberapa warga mengeluh kepada saya karena desilnya berubah dan naik menjadi 6 sampai 10. Mereka juga mengaku tidak mendapatkan pemberitahuan sebelumnya,” cetus Rusdi.

Menurut Rusdi, selain mengalami kenaikan desil, terdapat pula warga yang status desilnya tidak diketahui atau ‘Null’.

Kondisi tersebut menjadi persoalan karena penerima sejumlah bantuan sosial ditujukan bagi warga yang masuk dalam kelompok desil 1 hingga 5.

“Meski sudah ada beberapa warga yang desilnya turun lagi, saya berharap pemerintah kembali mengecek langsung ke lapangan, agar kondisi warga yang memang tidak mampu bisa disesuaikan dengan data desilnya,” pungkasnya. (*)


 

Editor: Elha Hidayat

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.