Probolinggo,- Bupati Probolinggo, Muhammad Haris atau Gus Haris, menunjukkan kepedulian sosialnya dengan mendistribusikan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Gus Haris tak sendiri, melainkan bersama Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) dan sejumlah kepala daerah yang mewakili para bupati dari berbagai wilayah Indonesia.

Dijelaskannya, misi kemanusiaan itu dimulai sejak tanggal 4 hingga 6 September 2026. Titik penyerahan bantuan berada di Maumere untuk Kabupaten Sikka dan Nagekeo, lalu ke Manggarai Barat untuk penyerahan bantuan bagi Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai Timur, dan Manggarai.

“Ini bagian dari semangat solidaritas antardaerah, untuk hadir dan menyampaikan dukungan kepada masyarakat serta pemerintah daerah yang terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur,” kata Gus Haris.

Sebelumnya, menurut Gus Haris, kepedulian masyarakat Kabupaten Probolinggo telah lebih dahulu disampaikan melalui penggalangan donasi yang bantuannya dititipkan melalui BPBD Provinsi Jawa Timur untuk diteruskan kepada masyarakat terdampak.

“Kami datang bukan sekadar mengawal bantuan. Kami membawa salam, doa, dan kepedulian dari masyarakat Kabupaten Probolinggo untuk saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur,” paparnya.

Kepala daerah berusia 51 tahun ini menyebut, bencana menjadi pengingat bahwa batas administratif tidak boleh membatasi rasa kemanusiaan. Saat satu daerah menghadapi musibah, daerah lain memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menguatkan.

“Hari ini mungkin saudara-saudara kita di NTT yang membutuhkan uluran tangan. Esok hari, kita tidak pernah tahu siapa yang membutuhkan pertolongan,” ucap Gus Haris.

“Karena itu, solidaritas antardaerah harus terus kita jaga. Indonesia menjadi kuat bukan hanya karena pemerintahannya, tetapi karena rakyat dan daerah-daerahnya tidak membiarkan satu sama lain menghadapi kesulitan sendirian,” imbuhnya.

Keterlibatan Kabupaten Probolinggo dalam misi APKASI ini sekaligus membawa pesan bahwa kepedulian terhadap sesama adalah bagian dari wajah Probolinggo SAE, daerah yang terus bekerja untuk masyarakatnya sendiri, namun tetap memiliki empati dan kepedulian ketika saudara sebangsa menghadapi musibah.

Bagi Gus Haris, perjalanan tersebut bukan tentang seberapa jauh bantuan dibawa, melainkan tentang memastikan bahwa di tengah musibah, selalu ada saudara yang datang dan mengatakan bahwa: Kalian tidak sendirian.

“Memang yang kami bawa mungkin tidak seberapa. Tetapi persaudaraan tidak pernah diukur dari besarnya bantuan. Persaudaraan diukur dari kesediaan untuk hadir,” ia menegaskan. (*)


 

Editor: Elha Hidayat

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.