Probolinggo,- Bangunan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ainur Rohman di Desa Tambak Ukir, Kecamatan Kotaanyar, rusak parah. Kondisi gedung yang lapuk dan membahayakan, memaksa puluhan siswa menumpang belajar di masjid desa.

Ironisnya, meski sudah berlangsung selama hampir satu tahun terakhir, kerusakan bangunan tidak diketahui Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Probolinggo, yang notabene pemangku kebijakan.

Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Pendma) Kemenag Kabupaten Probolinggo, Muhammad As’adi, menyampaikan bahwa pihaknya baru mengetahui situasi tersebut dari informasi yang beredar dan belum menerima laporan resmi dari pengelola lembaga.

“Terkait bangunan madrasah di MI Ainur Rahmah, kami dari Kemenag belum mengetahui dan belum dapat informasi terkait kondisinya dan juga proses pembelajarannya,” ujar As’adi melalui pesan singkat WhatsApp (WA), Selasa (8/9/2026).

As’adi menegaskan, setiap aktivitas pembelajaran di luar ruang kelas seharusnya dilaporkan secara resmi ke Kemenag disertai alasan yang jelas.

Oleh karena itu, Kemenag Probolinggo berencana memanggil dan mengklarifikasi temuan ini kepada pengawas pembina wilayah setempat.

“Nanti akan kami konfirmasi dengan pengawas pembina terkait informasi tersebut,” tambahnya.

Saat ini, puluhan siswa-siswi MI Ainur Rohman terpaksa menjalani kegiatan belajar mengajar di masjid satu-satunya di desa setempat.

Langkah tersebut diambil lantaran ruang kelas 1, kelas 2, serta gedung PAUD mengalami kerusakan parah dan lapuk termakan usia, sehingga rawan ambruk jika diterjang angin kencang kawasan pegunungan.

Salah seorang warga Desa Tambak Ukir, Abdul Kholiq, menuturkan bahwa para guru dan orang tua sepakat memindahkan aktivitas belajar ke Masjid Zainur Rahman demi keselamatan anak-anak.

“Sudah hampir satu tahun menggunakan Masjid Zainur Rahman untuk kegiatan belajar mengajar. Karena memang kondisi ruang kelas 1, 2, dan PAUD-nya membahayakan kalau digunakan, apalagi angin sekarang disini sangat kencang,” tutur Kholiq.

Ia menambahkan, pihak Kemenag sebenarnya sudah pernah meninjau lokasi dan mengetahui kondisi sekolah saat survei penanganan bencana alam longsor sebelumnya.

Namun, hingga kini belum ada tindakan konkret untuk perbaikan fasilitas. Warga berharap pemerintah segera turun tangan agar proses belajar anak-anak dapat kembali berjalan aman dan layak. (*)


 

Editor: Elha Hidayat

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.