Lumajang,- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyebabkan kawasan wisata Bromo ditutup sementara, membuat pemandu wisata harus mengubah rencana perjalanan wisatawan mancanegara yang hendak datang ke Jawa Timur.

Salah satunya seperti yang dilakukan Istikmal, pemandu wisata Bromo. Ia mengaku harus berulang kali menjelaskan kepada wisatawan asing bahwa kawasan Bromo untuk sementara tidak dapat dikunjungi akibat kebakaran.

Istikmal bahkan menunjukkan foto dan video kondisi kebakaran kepada wisatawan agar mereka memahami situasi yang terjadi saat ini.

“Yang sulit itu menjelaskan ke wisatawan, utamanya yang mancanegara kalau Bromo tidak bisa dikunjungi,” kata Istikmal, Rabu (12/8/2026).

Menurutnya, wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia umumnya telah menyusun rencana perjalanan selama beberapa hari.

Bromo, dijelaskan Istikmal, biasanya menjadi salah satu tujuan dalam rangkaian perjalanan tersebut.

“Penutupan Bromo membuat pemandu harus mencari destinasi alternatif agar rencana perjalanan wisatawan tetap berjalan,” ucapnya.

Salah satu destinasi yang dipilih pasca penutupan Bromo adalah Air Terjun Tumpak Sewu di Kabupaten Lumajang.

“Biasanya kan turis asing itu bisa lima hari di sini dan Bromo didatangi di hari kedua atau tiga. Karena tidak bisa dikunjungi, kita arahkan ke tempat wisata lain,” kata Istikmak, Selasa (11/8/26).

Menurutnya, Tumpak Sewu menjadi salah satu pilihan karena lokasinya relatif dekat dari Bromo dan memiliki pemandangan yang diminati wisatawan.

Penutupan Bromo juga berpotensi mempengaruhi pendapatan pemandu wisata apabila wisatawan meminta pengembalian biaya (refund) perjalanan.

Namun, Istikmal mengatakan hingga saat ini belum ada wisatawan yang meminta refund kepadanya.

“Yang susah kalau mereka minta refund, tapi sejauh ini belum ada yang minta refund. Jadi kami arahkan untuk ke tempat wisata lain,” jelasnya.

Karena itu, pemandu wisata memilih mengubah tujuan perjalanan daripada membatalkan seluruh rangkaian wisata yang telah direncanakan.

Sebagaimana diketahui, karhutla di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) diketahui terjadi sejak Senin, 3 Agustus 2026.

Kebakaran diduga dipicu aktivitas manusia dan hingga kini telah membakar lahan seluas lebih dari 889 hektare kawasan konservasi. (*)


Editor: Mohammad S

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.