Probolinggo,- Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi di Bromo tak hanya berdampak pada wisatawan, namun juga pada pelaku jasa wisata ojek kuda.
Pasca penutupan objek wisata Bromo, ratusan ojek kuda di kawasan Tengger, kini telah kehilangan mata pencaharian utama.
Salah satu ojek kuda yang terdampak yakni Rusnadi, warga Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
Sejak Bromo ditutup, setiap harinya ia hanya merawat kuda yang menjadi sarana mata pencahariannya.
Ia mengaku, sebelum ditutup, dalam sehari penghasilan yang didapat sebagai ojek kuda mencapai paling banyak Rp400 ribu.
Penghasilan itu pun masih dibagi dengan pemilik kuda, karena kuda yang ia gunakan merupakan kuda sewaan.
“Sejak ditutup, saya tidak bisa kerja, dan setiap harinya hanya merawat kuda serta memberi makan,” kata Rusnadi, Rabu (12/8/26).
Di kawasan Bromo, terdapat sekitar 400 pelaku ojek kuda yang mencari nafkah dengan menawarkan jasa naik kepada para wisatawan.
Praktis, dengan ditutupnya Bromo, mereka tidak bisa lagi mendapat penghasilan dan terpaksa mencari penghasilan lain.
Para pelaku jasa wisata ini berharap api segera padam sehingga Bromo bisa kembali dibuka. Dengan begitu, ojek kuda dapat kembali bekerja.
“Harapan saya, semoga api dapat segera dipadamkan dan objek wisata bisa dibuka kembal agar saya bisa bekerja lagi,” imbuh Rusnadi.
Sebagaimana diketahui, karhutla di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) diketahui terjadi sejak Senin, 3 Agustus 2026.
Kebakaran diduga dipicu aktivitas manusia dan hingga kini telah membakar lahan seluas lebih dari 889 hektare kawasan konservasi. (*)












