Probolinggo– Memasuki awal Juli, fenomena kemunculan angin cenderung panas, kering, dan berkecepatan tinggi yang lazim disebut Angin Gending kembali melanda wilayah Probolinggo.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan serta menjaga kesehatan selama musim angin kencang berlangsung.

Fenomena Angin Gending umumnya terjadi pada Juli hingga September dan mulai dirasakan masyarakat di berbagai wilayah. Hembusan angin yang kencang menyebabkan daun-daun berguguran di sepanjang jalan.

Selain itu, angin juga membawa debu yang dapat mengurangi kenyamanan serta berpotensi mengganggu kesehatan warga.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief, menjelaskan bahwa fenomena tersebut dipicu oleh perbedaan suhu udara antara Benua Australia yang sedang mengalami musim dingin dan Benua Asia yang lebih panas.

Kondisi itu menyebabkan aliran angin dari kawasan Pegunungan Argopuro menuju wilayah pesisir Probolinggo dengan kecepatan cukup tinggi.

“Kencangnya angin bisa mencapai 45 kilometer per jam yang di Probolinggo dikenal sebagai Angin Gending. Angin ini juga membawa debu dan material lainnya,” kata Oemar, Jum’at (10/7/26).

Menurutnya, karena fenomena ini diperkirakan berlangsung hingga September, masyarakat yang beraktivitas di luar rumah disarankan menggunakan masker untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat debu.

BPBD juga mengimbau masyarakat agar tidak berteduh di bawah pohon besar yang berpotensi tumbang saat angin kencang.

Selain itu, warga diminta memperkuat bagian atap rumah yang dinilai rawan agar tidak mudah rusak diterjang angin.

Oemar menambahkan, penyakit yang paling sering muncul saat musim Angin Gending adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat paparan debu.

Karena itu, selain memakai masker, masyarakat juga dianjurkan memperbanyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi serta menggunakan tabir surya (sunblock) saat beraktivitas di bawah terik matahari.

“Masyarakat dianjurkan memakai masker, memperbanyak minum air agar tidak mengalami dehidrasi, serta menggunakan tabir surya untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari,” ujarnya.

Saat ini, kecepatan Angin Gending tercatat sekitar 16 kilometer per jam. Namun, pada puncak musim kemarau kecepatannya dapat meningkat hingga 30–45 kilometer per jam.

Kondisi tersebut juga meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Seperti yang terjadi pada Kamis malam lalu, kebakaran hutan dilaporkan terjadi di kawasan Gunung Geni.

Selain kepada masyarakat, BPBD juga mengingatkan wisatawan yang berkunjung ke kawasan Bromo agar tetap waspada. Pasalnya, fenomena angin kencang yang memicu puting beliung kecil di lautan pasir juga berpotensi terjadi.

“Kami juga mengimbau wisatawan yang berkunjung ke Bromo agar minimal menggunakan masker karena angin kencang di lautan pasir membawa banyak debu,” pungkas Oemar. (*)

Editor: Mohammad S

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.