Probolinggo,– Program ‘Ngantor di Kecamatan’ yang diinisiasi oleh Bupati Probolinggo, Mohammad Haris atau Gus Haris, telah konsisten berjalan selama hampir dua tahun belakangan.

Menariknya, program turun lapangan ini tetap eksis meski berjalan tanpa pos anggaran daerah khusus dan menyatu dengan ritme kerja harian bupati.

Pada Senin (29/6/26), Kecamatan Gading yang memiliki 19 desa dengan luas146,85 km², menjadi tuan rumah agenda ini.

Tanpa seremoni berlebihan, Gus Haris bersama Wakil Bupati Fahmi AHZ, Ketua TP PKK Ning Marisa Haris, Sekda Ugas Irwanto, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo Mohammad Zubaidi, sejumlah Kepala OPD, kades dan tokoh masyarakat, menggelar forum terbuka untuk mendengar keluhan para kepala desa mulai dari infrastruktur jalan, irigasi, hingga jaminan sosial.

“Ini kesempatan yang sangat luar biasa agar kita memiliki titik temu, menyepakati bersama untuk menyelesaikan setiap persoalan yang ada,” ujar Gus di Pendopo Kantor Kecamatan Gading.

Sinkronisasi Data dan Kritik untuk Camat

Salah satu sorotan utama dalam forum ini adalah proses cross-check data secara terbuka. Data masalah yang dibawa oleh pihak kecamatan langsung dikonfrontasikan dengan data milik OPD terkait.

Hal ini dilakukan agar tidak ada celah antara kondisi riil di lapangan (seperti jalan rusak, irigasi mampet, dan bansos) dengan angka di atas kertas.

Selain itu, Gus Haris memberikan penegasan keras mengenai fungsi seorang camat di era kepemimpinannya dengan indikator berikut:

● Bukan Sekadar Administrator: Camat dituntut bertindak sebagai CEO dan shohibul wilayah (penguasa wilayah).

● Paham Teritori: Harus menguasai betul kondisi lapangan dan tahu masalah apa yang menjadi skala prioritas.

● Inovatif: Wajib memiliki terobosan atau inovasi konkret dalam menyelesaikan persoalan di wilayahnya.

Mekanisme Kerja Dua Sesi

Mengingat Kecamatan Gading merupakan salah satu wilayah dengan jumlah desa terbanyak di Kabupaten Probolinggo (19 desa), kunjungan kerja ini dirancang secara taktis ke dalam dua sesi.

Sesi pertama, pertemuan dan ruang curhat terbuka antara Bupati dengan seluruh kepala desa. Sesi ini berupa pemetaan awal (mapping) skala prioritas persoalan di tiap desa sebelum turun lapangan.

Sesi kedua, paparan resmi dari Camat mengenai kondisi wilayah, inovasi, dan solusi konkret. Sinkronisasi program kerja sebelum rombongan meninjau langsung ke desa-desa.

Gus Haris mengaku lega karena meskipun program ini berjalan di luar koridor anggaran khusus dan menyatu dengan ritme kerja harian bupati, efektivitasnya justru semakin matang.

“Alhamdulillah, hampir sudah satu tahun lebih ini, sudah terkonsep dengan baik dan berjalan,” pungkasnya. (*)


Editor: Mohammad S

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.