Lumajang,- Lonjakan kasus penyakit jantung di Kabupaten Lumajang dalam setahun terakhir mendorong RSUD Dr. Haryoto mempercepat operasional layanan catheterization laboratory (Cath Lab).

Direktur RSUD Dr. Haryoto, dr. Wawan Arwijanto, mengatakan peningkatan jumlah pasien menjadi sinyal bahwa penanganan penyakit jantung tidak lagi dapat bergantung pada sistem rujukan ke rumah sakit di luar daerah.

Menurut Wawan, data rumah sakit menunjukkan kenaikan signifikan jumlah pasien penyakit jantung sepanjang 2025.

Kunjungan Instalasi Gawat Darurat (IGD) akibat penyakit jantung meningkat dari 1.264 kasus pada 2024 menjadi 3.313 kasus pada 2025.

Sementara itu, kasus Acute Coronary Syndrome (ACS) naik dari 171 kasus menjadi 385 kasus pada periode yang sama.

“Data yang kami miliki menunjukkan lonjakan yang luar biasa. Kunjungan IGD untuk kasus jantung meningkat dari 1.264 kasus pada tahun 2024 menjadi 3.313 kasus pada tahun 2025,” tutur Wawan, Selasa (7/7/26).

“Sementara kasus Acute Coronary Syndrome (ACS) naik dari 171 menjadi 385 kasus. Ini bukan sekadar angka, tetapi menggambarkan semakin banyak masyarakat yang membutuhkan pertolongan cepat,” imbuhnya.

Ia mengatakan peningkatan tersebut menjadi dasar perlunya layanan Cath Lab segera dioperasikan di RSUD Dr. Haryoto. Keterlambatan penanganan akibat proses rujukan dapat mengurangi peluang keselamatan pasien serangan jantung.

“Kami tidak ingin masyarakat Lumajang kehilangan waktu emas karena harus dirujuk ke luar daerah. Setiap menit sangat menentukan keselamatan pasien serangan jantung,” beber Wawan.

“Dengan hadirnya Cath Lab, penanganan dapat dilakukan lebih cepat sehingga peluang pasien untuk selamat juga semakin besar,” jelasnya.

Sebagai bagian dari persiapan layanan tersebut, RSUD Dr. Haryoto mendapat pendampingan melalui kegiatan proctorship yang berlangsung pada 28–29 Juni 2026.

Pendampingan melibatkan tim dari RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita serta RSUD Dr. Saiful Anwar, dengan dukungan dari Kementerian Kesehatan.

Kegiatan itu ditujukan untuk memastikan kesiapan sumber daya manusia, sistem pelayanan, hingga standar keselamatan pasien sebelum Cath Lab dioperasikan.

Dalam rangkaian kegiatan yang sama, sebanyak 39 rumah sakit di Jawa Timur juga menandatangani kerja sama jejaring pelayanan jantung.

Wawan menilai kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat sistem rujukan sekaligus memperluas akses layanan penyakit jantung di daerah.

Ia juga optimistis kolaborasi ini akan mempercepat peningkatan mutu pelayanan jantung di Jawa Timur, khususnya di Lumajang.

“Tujuan akhirnya sederhana, yaitu memastikan masyarakat mendapatkan layanan jantung yang cepat, berkualitas, dan tidak perlu menempuh perjalanan jauh untuk memperoleh tindakan penyelamatan nyawa,” ia memungkasi. (*)

Editor: Mohammad S

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.