Lumajang,- Komunitas Adventure Kakelar Surga (AMS) mencatat, sebanyak 264 anak di Kabupaten Lumajang, menderita Kelainan Jantung Bawaan (KJB).
Dari jumlah tersebut, sebanyak 41 anak merupakan kasus baru yang saat ini tengah menjalani proses validasi dan pemeriksaan lanjutan bersama tenaga medis dan rumah sakit mitra.
Ketua Komunitas AMS Niken Suyanti mengatakan, puluhan pasien baru itu diperoleh dari rekomendasi dokter anak di sejumlah fasilitas kesehatan di Lumajang.
Setelah menerima laporan, pihaknya langsung melakukan pendataan dan pemeriksaan lanjutan untuk validasi sekaligus mitigasi.
“Untuk total pasien AMS sekarang ada 264 yang sudah terdata di kami. Nah untuk yang baru ini ada 41 pasien. Kami dapat rekomendasi dari dokter anak, lalu kami hubungi dan lakukan validasi,” kata Niken, Sabtu (23/5/26).
Menurut dia, selama ini pasien yang terindikasi mengalami kelainan jantung biasanya dirujuk untuk pemeriksaan lanjutan ke Rumah Sakit Siti Khodijah di Sidoarjo.
Dalam sepekan, AMS bisa mengantarkan tiga hingga empat kali keberangkatan pasien dengan jumlah sekitar tiga anak dalam sekali perjalanan.
Namun kali ini, sambungnya, tim medis dari Rumah Sakit Siti Khodijah melakukan layanan jemput bola ke Lumajang sehingga proses deteksi bisa dilakukan lebih cepat dan efisien.
“Sekarang RS Siti Khodijah jemput bola ke Lumajang. Kami sangat bersyukur karena sangat membantu. Jadi 41 anak yang terindikasi KJB ini bisa diketahui lebih cepat, hemat waktu, tenaga, dan biaya operasional,” beber Niken.
Ia mengatakan, jumlah 41 pasien tersebut belum mencakup seluruh kasus yang ada di Lumajang. Sebab, masih ada keluarga pasien yang menolak untuk menjalani pengobatan ataupun pemeriksaan lebih lanjut.
Respon Pemerintah Daerah
Bupati Lumajang Indah Amperawati menilai, kolaborasi antara pemerintah, yayasan sosial, rumah sakit, dan lembaga donor menjadi kunci dalam penanganan anak dengan kelainan jantung bawaan (KJB).
Indah memastikan, pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri mengingat tingginya kebutuhan pembiayaan dan pendampingan pasien.
“Karena itu kami bekerja sama dengan masyarakat, lembaga sosial, dan rumah sakit yang bisa membantu pengobatan anak-anak dengan indikasi kelainan jantung,” katanya.
Ia menjelaskan, Pemkab Lumajang selama ini bekerja sama dengan Yayasan Adventure Kakelar Surga (AMS) dalam melakukan pendataan serta pendampingan pasien anak yang terindikasi mengalami kelainan jantung.
Yayasan tersebut juga menjalin kemitraan dengan sejumlah rumah sakit di Surabaya, Jakarta, hingga luar negeri, yakni India.
Menurut Indah, sebagian pasien bahkan telah menjalani operasi jantung di India melalui bantuan Little Hearts Foundation. Ia menilai tingkat keberhasilan operasi jantung anak sangat tinggi.
“Tingkat keberhasilannya sangat besar, jauh di atas kegagalannya. Hampir bisa dikatakan lebih dari 99 persen berhasil jika dilakukan tindakan operasi, baik di Indonesia maupun luar negeri,” ujarnya.
Indah mengakui hingga kini Lumajang belum memiliki dokter spesialis jantung anak maupun fasilitas penunjang yang memadai.
Karena itu, pemerintah daerah berencana menjalin kerja sama dengan Universitas Airlangga untuk menghadirkan dokter spesialis melalui program pendidikan dokter spesialis (PPDS) di RSUD Dr Haryoto Lumajang.
“Kami sudah bertemu dengan Rektor Universitas Airlangga untuk membahas kerja sama penempatan dokter spesialis, terutama spesialis jantung anak yang saat ini belum kami miliki,” pungkasnya. (*)













