Probolinggo,- Terjadinya pemadaman listrik secara bergilir dalam beberapa waktu terakhir membuat para pedagang ikan hias di Kota Probolinggo resah.
Guna menyiasati keterbatasan alat seperti genset, para pedagang terpaksa melakukan berbagai langkah antisipasi agar komoditas dagangan mereka tetap bertahan hidup.
Salah satu pedagang yang terdampak adalah Novian Firmansyah, pemilik usaha ikan hias “Prapatan Cupang” yang berlokasi di Jalan dr. Sutomo, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.
Pada Kamis (19/6/2026), kawasan tempatnya berjualan sempat mengalami pemadaman listrik selama kurang lebih tiga jam. Kondisi ini membuatnya sempat kelimpungan.
Strategi Pangkas Volume Air
Karena tidak memiliki mesin genset sebagai daya cadangan, Novian memutar otak dengan mengurangi volume air di dalam akuarium hingga setengahnya.
Langkah darurat ini sengaja diambil agar jarak antara dasar akuarium dan permukaan air menjadi lebih pendek, sehingga memudahkan ikan naik ke permukaan untuk mengambil oksigen langsung dari udara bebas.
“Salah satu upayanya dengan mengurangi air, Mas. Itu satu-satunya cara agar ikan tetap hidup dan untuk mengantisipasi jika terjadi pemadaman lagi,” ujar Novian saat ditemui di tokonya.
Ikan Koi Paling Rentan Mati
Dari berbagai jenis ikan yang ia jual—mulai dari Glowfish, cupang, molly, koki, channa, komet, hingga manfish—ikan koi tercatat sebagai jenis yang paling rentan mati ketika aerator (alat penghasil gelembung udara) mati akibat ketiadaan aliran listrik.
Novian membagikan perbandingan ketahanan ikan koi berdasarkan volume air:
– Volume Air Penuh: Tanpa pasokan oksigen dari aerator, ikan koi hanya mampu bertahan sekitar 1 jam sebelum akhirnya lemas dan mati.
– Volume Air Setengah: Dengan mengurangi air, ikan koi dapat memperpanjang napas dan bertahan hingga 6 jam.
“Kalau tidak ada pasokan oksigen terlalu lama dari alat tersebut, ikan bisa lemas, dan yang terburuk bisa mati,” jelasnya.
Harapan Pedagang Terhadap Pasokan Listrik
Untuk jenis ikan hias lainnya, Novian menilai relatif lebih tangguh dan mampu bertahan meski tanpa bantuan aerator dalam waktu yang cukup lama.
Kendati demikian, ia mengaku harus terus memantau kondisi akuariumnya secara berkala demi mengantisipasi pemadaman listrik susulan.
Ia berharap agar pihak terkait dapat segera menstabilkan pasokan listrik di wilayah tersebut sehingga pemilik usaha yang memanfaatkan aliran listrik sepertinya tidak terlalu merugi.
“Harapannya pasokan listrik kembali normal. Bukan hanya saya, tetapi juga pedagang lain yang mengandalkan listrik sebagai alat bantu usaha agar tidak lagi resah,” pungkasnya. (*)












