Lumajang, – Tim medis terpaksa melakukan operasi pembersihan luka bakar dan pemasangan alat bantu pernapasan terhadap korban letupan Semeru karena kondisinya memburuk.
Hingga Sabtu (20/6/26) sore) .penambang yang menjadi korban letupan sekunder material panas Gunung Semeru masih menjalani perawatan intensif di RSUD dr. Haryoto Lumajang.
Kondisi korban dilaporkan kritis setelah mengalami luka bakar lebih dari 80 persen tubuh. Untuk diketahui, nama korban Very Irawan.
Direktur RSUD dr. Haryoto Lumajang, Wawan Arwijanto, mengatakan tim medis telah melakukan penanganan awal sesaat setelah korban tiba di rumah sakit. Langkah pertama yang dilakukan adalah operasi untuk membersihkan luka bakar yang tersebar hampir di seluruh tubuh korban.
“Korban sudah dilakukan penanganan awal, operasi untuk membersihkan semua luka bakarnya, memasang saluran untuk pemberian cairan, kemudian memasang saluran untuk membantu pernapasan,” kata Wawan.
Luka Bakar 80 Persen
Menurutnya, tingkat luka bakar yang dialami korban tergolong sangat berat. Dari hasil pemeriksaan medis, luas luka bakar mencapai lebih dari 80 persen, jauh di atas ambang batas yang umumnya dikategorikan membahayakan nyawa.
“Luka ini luka bakar 80 persen lebih. Jadi ini kondisi yang sangat membahayakan. Biasanya di atas 40 persen saja sudah bahaya,” ujarnya.
Saat ini, sambungnya, tim dokter masih berupaya menjaga kondisi korban tetap stabil. Selain risiko infeksi akibat luka bakar yang luas, dokter juga mewaspadai kemungkinan gangguan pada organ-organ vital akibat paparan panas saat kejadian.
Wawan menjelaskan, salah satu kekhawatiran terbesar tim medis adalah adanya kerusakan pada saluran pernapasan. Sebab korban diduga menghirup udara panas ketika letupan material terjadi di lokasi tambang.
“Saat ini yang kita takutkan ada kerusakan di jalan pernapasan karena menghirup panas itu tadi,” ia menjelaskan.
Selain saluran pernapasan, kondisi ginjal korban juga menjadi perhatian. Luka bakar berat dapat menyebabkan kehilangan cairan tubuh dalam jumlah besar yang berpotensi memengaruhi fungsi organ tersebut.
“Kemudian di saluran napasnya, kemudian di ginjal karena penguapan cairan, dan di kulit terutama,” tuturnya.
Meski kondisi korban masih kritis, rumah sakit memastikan seluruh upaya medis akan dilakukan secara maksimal.
Tim dokter dan perawat terus memantau perkembangan pasien selama menjalani perawatan intensif.
Wawan juga memastikan biaya pengobatan korban ditanggung pemerintah karena peristiwa tersebut masuk dalam kategori bencana alam.
“Untuk biaya peristiwa seperti ini, bencana alam sudah ditanggung oleh pemerintah melalui Perbup Bakesmaskin,” Wawan memungkasi. (*)












