Lumajang– Jejak kejayaan Nusantara sebagai pusat perdagangan rempah dunia masih terasa nyata hingga kini di lereng Gunung Semeru.

Di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, hamparan kebun kapulaga tidak sekadar menjadi sumber penghidupan warga lokal, melainkan penyambung mata rantai perdagangan rempah global yang telah mengakar sejak era kolonial.

Sejarah mencatat bahwa kekayaan rempah-rempah seperti pala, cengkih, lada, hingga kapulaga pernah menjadikan Indonesia tujuan utama bangsa-bangsa Eropa.

Kini, meski harus berhadapan dengan persaingan ketat ekspor dari negara-negara seperti Vietnam dan India, kapulaga asal Senduro terbukti konsisten mempertahankan daya saingnya di pasar internasional.

Diakui Pasar Internasional

Kualitas rempah dari lereng Semeru ini diakui secara luas di kancah global. Bahkan pemasarannya kini telah mampu menembus pasar internasional.

Petani kapulaga asal Desa Senduro, Satimin, mengungkapkan bahwa hasil panen dari lahannya rutin diserap oleh pengepul sebelum akhirnya dikirim ke berbagai negara.

“Artinya, kapulaga Senduro banyak diminati oleh kancah internasional,” ujar Satimin.

Pria yang telah menekuni budidaya kapulaga sejak tahun 2010 ini memilih untuk tetap bertahan di tengah dinamika fluktuasi harga komoditas.

Menurutnya, kunci keberhasilan bertani terletak pada konsistensi dan ketekunan, bukan sekadar respons impulsif terhadap tren harga pasar.

“Yang penting telaten dan banyak bersyukur. Saya tidak mau berbicara soal harga. Intinya, saya ingin masyarakat Senduro tahu kalau mau usaha harus telaten, jangan sering membongkar tanaman hanya karena harga,” bebernya.

Perawatan Mudah dan Menguntungkan

Pandangan serupa disampaikan oleh Toyo, petani kapulaga dari Desa Kandangtepus, Kecamatan Senduro. Selama bertahun-tahun mengelola kebun kapulaga, ia mengaku belum pernah mengalami kerugian dari komoditas ini.

“Karena apa yang mau dirugikan. Perawatannya sangat mudah dan panennya bisa satu tahun dua kali,” ungkap Toyo.

Potensi Ekspor Rempah Indonesia

Di tengah dinamika perdagangan global, posisi Indonesia tetap kokoh sebagai salah satu pemain utama ekspor rempah dunia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), volume ekspor rempah Indonesia mencatatkan peningkatan sepanjang tahun 2023.

Walaupun nilai ekspor sempat menghadapi tekanan akibat melemahnya harga komoditas global, komoditas lokal seperti Kapulaga Senduro membuktikan bahwa daya serap pasar dunia terhadap rempah Nusantara tetap tinggi. (*)

Editor: Mohammad S

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.