Probolinggo,- Di tengah stigma bahwa aeromodelling adalah olahraga mahal dan rumit yang hanya bisa dijangkau segelintir orang, seorang remaja dari Kabupaten Pasuruan berhasil mematahkan anggapan tersebut.
Lewat ketelitian dan kerja keras, para pelajar SMK Yayasan Pendidikan Nasional (Yapenas) Gempol sukses membuktikan diri mampu bersaing dan mengukir prestasi gemilang di dunia dirgantara.
Salah satu motor penggerak prestasi itu adalah Ahmad Novan Saputra. Siswa kelas X jurusan Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi (TJKT) ini menjadi bukti nyata bahwa usia muda bukanlah halangan untuk konsisten berprestasi.
Paling gres, Novan sukses menyabet podium pertama dalam nomor Fun Fly F3K/DLC Jatim pada kejuaraan ketat yang digelar di Kota Batu.
Taklukkan Angin Pegunungan
Kemenangan Novan tidak didapatkan dengan mudah. Berhadapan langsung dengan para pilot aeromodelling berpengalaman dari kota-kota besar seperti Malang, Blitar, hingga Surabaya, Novan harus bertarung melawan alam.
Angin pegunungan Kota Batu yang terkenal kencang dan tidak dapat ditebak menjadi ujian mental sekaligus teknik yang sesungguhnya.
Dalam nomor ini, kemampuan mengendalikan pesawat agar tetap stabil dan terbang tinggi menjadi kunci penilaian utama.
“Ketika bertanding di Batu, tantangannya luar biasa karena angin di daerah pegunungan sangat kuat. Alhamdulillah, berkat ketenangan, pesawat masih bisa dikendalikan dengan baik hingga meraih poin tertinggi dan mengunci gelar juara,” ungkap Novan penuh rasa syukur, Sabtu (13/6/26).
Langkah kaki Novan tidak berhenti di Kota Batu. Usai membawa pulang trofi juara, ia langsung tancap gas mempersiapkan diri untuk kompetisi berikutnya yang akan digelar September mendatang.
Tak tanggung-tanggung, sebuah pesawat baru yang berukuran lebih besar, jenis KT-1 Wong Bee, kini tengah ia rakit dan siapkan sebagai senjata andalannya di angkasa.
Keberhasilan Novan tentu tidak lepas dari ekosistem sekolah yang suportif. Hal itu menjadikan keterbatasan bukan penghalang jika kreativitas dan tekad sudah menyatu di udara.
Kepala SMK Yapenas Gempol, Kurnia Mayasari, menegaskan bahwa sekolah selalu menaruh perhatian yang seimbang antara prestasi akademik di dalam kelas dengan bakat nonakademik di luar kelas.
“Alhamdulillah, kami sangat bangga ada siswa yang mampu mengharumkan nama sekolah lewat jalur nonakademik, khususnya ekstrakurikuler aeromodelling ini,” beber Mayasari bangga.
“Sejak prestasi ini diraih, kami melihat minat siswa-siswi lain untuk bergabung di ekskul ini juga terus melonjak tajam,” imbuhnya.
Pihak sekolah tidak mau setengah-setengah. Komitmen penuh diberikan dalam bentuk pembiayaan operasional kegiatan hingga investasi pengadaan pesawat baru demi mendukung performa para atlet muda mereka di ajang-ajang prestisius selanjutnya.
“Bagi kami, bakat anak-anak harus difasilitasi. Sekolah memberikan dukungan penuh untuk kebutuhan ekskul ini, termasuk saat ini kami sedang menyiapkan pesawat baru agar Novan dan tim siap tempur di kejuaraan berikutnya,” tambah Mayasari.
Virus Prestasi yang Menular
Menariknya, atmosfer berprestasi di SMK Yapenas Gempol tidak hanya bergema di landasan pacu aeromodelling.
Semangat berkompetisi ini rupanya menular ke bidang-bidang lain, salah satunya adalah prestasi di bidang jurnalistik yang juga mulai menunjukkan taringnya.
Pihak sekolah berharap, cerita sukses Novan dan kawan-kawan bisa menjadi pemantik api semangat bagi seluruh peserta didik lainnya. Bahwa dengan ketekunan, fokus, dan wadah yang tepat, siapapun bisa terbang tinggi menggapai mimpi mereka masing-masing. (*)












