Probolinggo,- Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Probolinggo menginisiasi program literasi budaya perdana bertajuk “Suroan di Perpustakaan” pada Rabu (15/7/26).
Bertempat di Aula Perpustakaan Daerah Kabupaten Probolinggo, acara yang dimulai pukul 09.00 WIB ini dirancang khusus untuk mengenalkan kekayaan warisan leluhur kepada para pelajar tingkat SD dan SMP sejak usia dini, sekaligus menjadi momentum edukatif untuk menyambut hari pertama masuk sekolah.
Rangkaian kegiatan dikemas secara apik dan interaktif di bawah panduan Cak Amir dari Relawan Literasi Madura (Relima) Kabupaten Probolinggo.
Suasana aula menjadi hidup melalui tiga agenda utama: tradisi Mamacah Ogem yang dibawakan oleh perangkat Desa Bago Kecamatan Besuk, Didik; pertunjukan Wayang Blangbleng yang jenaka dan sarat makna oleh dalang Ki Ompong Soedharsono.
Lalu, lokakarya kreatif melukis menggunakan ampas kopi yang dipandu oleh tim dosen dan mahasiswa Universitas Islam Zainul Hasan Genggong.
Menghidupkan Kembali Aksara Pegon
Salah satu sorotan utama dalam program ini adalah pengenalan naskah kuno beraksara Arab Pegon, yang sejatinya saat ini sudah mulai ditinggalkan.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Probolinggo, Ulfiningtyas, mengungkapkan bahwa warisan literasi ini sudah mulai asing di telinga generasi muda, padahal menyimpan nilai sejarah, budaya, dan edukasi tinggi.
“Terkait dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan ini mengadakan Literasi Budaya Suroan adalah, yang pertama ingin mengenalkan budaya kita kepada anak-anak mulai dari usia dini. Ini kan jarang sekali anak-anak mengetahui terkait budaya literasi seperti itu,” ujar Ulfi, sapaannya.
Lebih dari sekadar teks penanda zaman, Ulfi menjelaskan bahwa naskah kuno tersebut merekam kualitas fisik bahan kertas dan teknik penulisan masa lampau yang terbukti tangguh bertahan hingga puluhan tahun.
Melalui pengenalan ini, diharapkan nilai-nilai historis tersebut tidak luntur ataupun punah, melainkan tetap terjaga secara turun-temurun lintas generasi.
Perpustakaan jadi Ruang Inklusi Modern
Dalam kesempatan itu, Ulfi jug menegaskan bahwa fungsi perpustakaan kini telah bertransformasi, tidak lagi sekadar menjadi ruang sunyi untuk membaca dan meminjam buku, melainkan wadah inklusi sosial yang dinamis bagi masyarakat.
Berbagai kelas kreatif, mulai dari kelas tari, parenting, public speaking, hingga pelatihan kewirausahaan, kini aktif diakomodasi demi mendukung pemberdayaan literasi yang lebih luas.
“Literasi budaya ini juga bertujuan memelihara dan mengenalkan sejarah kuno kepada generasi penerus agar tetap terpelihara, terjaga, tidak luntur maupun punah, sehingga dapat diketahui secara turun-temurun,” tuturnya.
Sebagai langkah awal, peserta “Suroan di Perpustakaan” kali ini melibatkan sekolah-sekolah di sekitar lingkungan perpustakaan daerah yang diundang secara khusus.
Dispersip Kabupaten Probolinggo menargetkan cakupan kepesertaan yang lebih luas pada masa mendatang agar pesan kelestarian budaya ini dapat menjangkau lebih banyak generasi muda di Kabupaten Probolinggo.
Ada pula edukasi seni memanfaatkan ampas kopi menjadi karya bernilai estetis. “Aara ini membuktikan bahwa belajar sejarah dan budaya bisa dikemas dalam ruang yang rekreatif sekaligus inovatif,” Ulfi memungkasi. (*)











