Pasuruan,- Menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026, suasana berbeda terlihat di Desa Gerongan, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan.
Ratusan bendera negara peserta Piala Dunia mulai menghiasi jalan-jalan kampung sebagai bentuk dukungan warga terhadap tim favorit mereka.
Menariknya, seluruh bendera dipasang secara swadaya tanpa bantuan sponsor maupun pihak tertentu.
Warga rela merogoh kocek sendiri demi memeriahkan pesta sepak bola terbesar di dunia tersebut.
Puluhan bendera berukuran jumbo tampak berkibar di sepanjang jalan desa hingga sudut-sudut perkampungan, Senin (8/6/2026).
Bendera tersebut dipasang menggunakan tiang bambu setinggi 10 hingga 15 meter yang menjulang di depan rumah warga.
Pemandangan itu sudah menjadi tradisi yang berlangsung setiap kali Piala Dunia digelar. Tak heran jika Desa Gerongan dikenal sebagai Kampung Gibol atau Gila Bola karena tingginya antusiasme masyarakat terhadap sepak bola.
Dari sekian banyak bendera yang terpasang, negara-negara unggulan seperti Brasil, Argentina, Portugal, Jerman, Prancis, Inggris hingga Spanyol menjadi yang paling mendominasi.
Warga memilih memasang bendera sesuai negara jagoan masing-masing. Bahkan, sebagian warga rela mengeluarkan biaya hingga ratusan ribu rupiah untuk membuat bendera berukuran besar lengkap dengan tiangnya.
Pecinta sepak bola di Desa Gerongan, M Samian, mengatakan tradisi memasang bendera peserta Piala Dunia sudah berlangsung sejak lama.
Menurutnya, warga selalu antusias menyambut ajang sepak bola empat tahunan tersebut.
“Kalau ada Piala Dunia, warga pasti ramai pasang bendera. Tidak perlu ada yang menyuruh. Semua punya negara favorit masing-masing dan memasangnya dengan biaya sendiri,” ujarnya.
Samian menuturkan, biaya pembuatan satu bendera lengkap dengan tiang bambu bisa mencapai Rp700 ribu hingga Rp800 ribu. Meski demikian, hal itu tidak mengurangi semangat warga untuk ikut memeriahkan Piala Dunia.
Dikatakannta, bendera-bendera tersebut akan terus berkibar selama turnamen berlangsung. Namun saat memasuki fase gugur, warga biasanya mulai menurunkan bendera negara yang telah tersingkir dari kompetisi.
Sekretaris Desa Gerongan, Khasani, mengatakan tradisi tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Selain memasang bendera, warga juga rutin menggelar nonton bareng untuk menyaksikan pertandingan tim favorit mereka.
“Setiap Piala Dunia memang selalu seperti ini. Antusiasme warga sangat tinggi. Selain memasang bendera, mereka juga sering mengadakan nonton bareng di lingkungan masing-masing,” katanya.
Ia menambahkan, jumlah bendera yang terpasang diperkirakan masih akan terus bertambah seiring semakin dekatnya pelaksanaan Piala Dunia 2026.
“Kalau sudah Piala Dunia, warga memang antusias sendiri. Tidak perlu diajak atau dikomando. Mereka pasang bendera sendiri dan mendukung negara favoritnya masing-masing. Sudah menjadi tradisi di sini,” pungkas Khasani. (*)












