Lumajang,- Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Biosolar di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kabupaten Lumajang, mulai memukul pendapatan pekerja yang menggantungkan hidup dari kendaraan.

Antrean panjang yang terjadi sejak hampir sepekan membuat sopir truk hingga pengemudi ojek online (ojol) kehilangan waktu kerja. Sebagian bahkan harus berpindah-pindah SPBU atau mencari BBM eceran agar tetap bisa bekerja.

Hasan, sopir truk pengangkut tebu asal Desa Kedawung, Kecamatan Padang, mengatakan dirinya harus mengantre lebih dari setengah jam di SPBU Sukodono setelah sebelumnya mendapati stok solar di SPBU Pasirian kosong.

“Dampak paling utama ya pengiriman, mulai satu sampai dua jam terlambatnya,” katanya, Selasa (8/9/2026).

Keterlambatan itu membuat pengiriman tebu ke Pabrik Gula Semboro Jember terganggu. Dari target normal tiga kali pengiriman dalam sehari, Hasan kehilangan satu rit.

“Full tangki dapat mengirim sebanyak 3 kali pengiriman, kalau normal bisa lebih. Tapi kalau sekarang saya kehilangan satu rit, biasanya kalau satu rit Rp 350.000 hingga Rp 400.000 tergantung beratnya,” jelas Hasan.

Artinya, antrean BBM bukan sekadar persoalan waktu bagi Hasan. Berkurangnya satu perjalanan berarti hilangnya potensi pendapatan hingga ratusan ribu rupiah dalam sehari.

Kondisi serupa dialami Sami’an, sopir truk semen asal Desa Sukosari, Kecamatan Jatiroto.

Sami’an mengaku sudah mengantre sejak pukul 09.00 WIB hingga lebih dari satu jam di SPBU Sukodono. Sistem kerja borongan yang mengandalkan jumlah angkutan pun ikut terganggu.

“Kami sopir kan borongan, biasanya dapat 3 kali angkut. Gara-gara antre cuma bisa sekali angkut,” tutur Sami’an.

Dalam satu kali perjalanan, Sami’an mendapatkan upah Rp50.000. Dengan hanya mampu melakukan satu perjalanan, ia kehilangan potensi pendapatan hingga Rp100.000 dalam sehari.

Bahkan, ia sempat membeli solar eceran karena waktu yang tersedia tidak cukup untuk kembali mengantre di SPBU.

“Golek eceran, tidak nutut waktunya sampai beli eceran dengan harga Rp 45.000 hingga Rp 50.000. Dapat 5 liter cuma,” lanjutnya.

Dampak kelangkaan BBM juga dirasakan pengemudi ojol. Holil, pengemudi ojol asal Desa Grati, Kecamatan Sumbersuko, mengatakan harus tiga kali mendatangi SPBU untuk mencari Pertalite.

Waktu yang seharusnya digunakan untuk menerima pesanan pelanggan habis karena mengantre BBM.

“Sudah tiga kali antre SPBU, di Bago tadi saya cari tidak ada, sekarang SPBU ketiga. Pembatalan orderan sudah otomatis terjadi, ada mungkin 3 orderan terpaksa dibatalkan, la wong antre BBM,” kata Holil.

Menurut dia, mencari Pertalite di pengecer juga tidak menjadi solusi. Stok BBM di tingkat pengecer pun sempat kosong.

“Sempat kemarin cari Pertalite tidak ada barangnya (di SPBU) jadi tidak bisa kerja. Cari eceran juga tidak ada,” ucapnya.

Kesulitan mendapatkan Pertalite juga dirasakan masyarakat umum.

Widi, warga Kecamatan Yosowilangun, bahkan harus menempuh jarak 17 kilometer menuju Kecamatan Lumajang demi mendapatkan Pertalite.

“Tadi sudah tiga pom (SPBU) kosong semua, baru dapat di sini (Kecamatan Lumajang), itu pun antreannya panjang,” kata Widi setelah mengantre sekitar 30 menit.

Ramdan, warga Kecamatan Gucialit, mengatakan situasi sulit mendapatkan BBM telah berlangsung sejak awal September 2026.

“Kadang sudah antre lama malah kehabisan akhirnya harus pindah pom lagi. Harapannya segera normal lagi, ini sudah satu minggu seperti ini,” ungkap Ramdan.

PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus membenarkan adanya gangguan pasokan BBM subsidi jenis Pertalite dan Biosolar di wilayah Lumajang dan sekitarnya.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menjelaskan gangguan distribusi dipicu kemacetan panjang sepanjang 12 kilometer di kawasan Ketapang, Banyuwangi.

Kemacetan tersebut terjadi akibat proyek revitalisasi kapasitas dermaga ASDP dan berdampak pada waktu tempuh mobil tangki menuju SPBU.

“Antrean panjang yang terjadi di sejumlah SPBU, dipicub oleh kendala distribusi akibat kemacetan panjang di wilayah Ketapang, Banyuwangi yang berdampak pada waktu tempuh mobil tangki menuju SPBU,” terang Ahad.

Pertamina juga menyebut kondisi tersebut diperparah oleh panic buying atau pembelian berlebih karena masyarakat khawatir kehabisan BBM.

Untuk memperkuat pasokan, Pertamina melakukan alih suplai dari Integrated Terminal (IT) Surabaya dan IT Malang. Pengiriman tidak lagi hanya bergantung pada IT Tanjungwangi Banyuwangi.

“Pada 5 September 2026, realisasi supply Pertalite telah mencapai sekitar 110 persen yang menunjukkan bahwa proses build up stok di SPBU mulai berjalan,” jelas Ahad.

Sementara itu, jajaran Polres Lumajang meningkatkan patroli di sejumlah SPBU. Personel disiagakan untuk mengatur arus lalu lintas sekaligus mengantisipasi potensi penimbunan BBM.

Kasat Samapta Polres Lumajang AKP Agus Sugiharto mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan penimbunan.

“Kami terus berpatroli, dan mengimbau kepada masyarakat agar tidak melakukan penimbunan. Karena kalau ada penimbunan akan bisa diproses secara pidana,” kata Agus. (*)


 

Editor: Elha Hidayat

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.