Probolinggo,- Harga murah dan penyerapan hasil panen tembakau yang rendah di Kabupaten Probolinggo, memantik gejolak.

Ketua DPC Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Probolinggo, Agus Salehuddin, mendesak pemerintah daerah bersama DPRD mengevaluasi keberadaan dan aktivitas gudang tembakau, khususnya milik PT Gudang Garam yang berlokasi di wilayah Paiton.

Langkah ini dipicu oleh kekecewaan terhadap sikap Gudang Garam yang dinilai mengabaikan petani tembakau lokal selama tiga tahun terakhir.

Sebagai salah satu pelaku industri besar, keberadaan pabrikan tersebut selama ini memegang peranan vital dalam menjaga kestabilan harga serta ekosistem pasar pertembakauan di Probolinggo.

“Gudang Garam itu sejak dulu menjadi maskot Probolinggo dan menjadi acuan petani. Sekarang sudah tahun ketiga tidak mengambil dengan alasan stok masih banyak,” ujar Agus saat mengikuti inspeksi mendadak (sidak) bersama Komisi II DPRD Kabupaten Probolinggo pada Selasa (1/9/26).

Ia menambahkan, kebijakan perhentian penyerapan ini memicu keheranan dan rasa ketidakadilan bagi komunitas petani setempat.

Ia menduga, pihak perusahaan tetap aktif melakukan pembelian tembakau di kawasan outer daerah untuk memenuhi kebutuhan produksi.

“Di luar Probolinggo masih mengambil, di Madura masih mengambil, di Temanggung masih mengambil, di Bojonegoro masih mengambil. Pertanyaannya, mengapa Probolinggo tidak mengambil?” tanya Agus.

Atas pertimbangan itulah, HKTI mendorong DPRD dan Pemerintah Kabupaten Probolinggo, melakukan peninjauan ulang terhadap regulasi serta izin operasional fasilitas penampungan milik perusahaan tersebut.

Agus menilai, keberadaan bangunan tanpa aktivitas penyerapan daerah hanya akan merugikan iklim pertanian lokal.

“Kalau memang regulasinya memungkinkan, biar tidak menjadi patung di wilayah Paiton, tutup gudangnya. Kalau memang tidak mengambil tembakau di Paiton, untuk apa gudang itu ada?” kecamnya.

Sekedar diketahui, harga tembakau saat ini berkisar antara Rp50.000 hingga Rp63.000 per kilogram (kg). Sementara kemampuan serapan tembakau dari gudang hanya 8.000 ton, jauh dari target yang dipatok 18.000 ton per tahun.

Respons Gudang Garam

Salah satu perwakilan manajemen Gudang Garam Paiton, Olivia menyebut, tidak semua gudang membeli tembakau dari daerah yang sama setiap tahun.

“Karena pembelian disesuaikan dengan kondisi stok dan kebutuhan masing-masing gudang,” jelasnya.

Ia mengakui, gudang tempatnya bekerja telah tiga tahun tidak membeli tembakau dari Probolinggo. Stok yang tersedia diklaim masih mencukupi kebutuhan untuk beberapa tahun dalam kondisi pasar saat ini.

Olivia mengatakan pihaknya belum dapat memastikan kapan pembelian tembakau dari Probolinggo kembali dilakukan. “Kita enggak bisa memastikan,” jawabnya.

Ia berharap kondisi perusahaan dapat kembali pulih sehingga aktivitas pembelian tembakau dari petani Probolinggo dapat berjalan seperti sebelumnya. “Kita mohon doanya,” ia memungkasi. (*)


 

Editor: Mohammad S

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.