Lumajang,- Capaian hipertensi terkendali di Kabupaten Lumajang, pada Semester I 2026 masih berada di bawah target pemerintah daerah.

Dari target 25 persen, capaian pengendalian hipertensi baru mencapai 12,86 persen.

Hal itu diketahui dalam Pertemuan Penguatan Tatalaksana Nonfarmakologis Program Hipertensi dan Diabetes Melitus, Rabu (12/8/2026).

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (P2KB) Kabupaten Lumajang, dr. Marshall Trihandono, mengatakan capaian tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah untuk memperkuat edukasi dan pendampingan terhadap pasien.

“Target hipertensi terkendali adalah 25 persen dan di Kabupaten Lumajang hingga Semester I 2026 mencapai 12,86 persen. Ini menjadi perhatian kita bersama agar pengelolaan pasien hipertensi semakin optimal,” katanya, Kamis (13/8/26).

Menurutnya, pengendalian hipertensi tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan. Perubahan pola hidup menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi pasien tetap terkendali.

Upaya tersebut meliputi aktivitas fisik, pengaturan pola makan, istirahat yang cukup, pengelolaan stres, serta pemeriksaan kesehatan secara rutin.

“Pengendalian hipertensi membutuhkan pendekatan yang komprehensif. Pasien perlu didukung agar tidak hanya patuh terhadap pengobatan, tetapi juga mampu menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari,” beber dia.

Pemkab Lumajang memperkuat edukasi dan pendampingan melalui keterlibatan Ketua TP PKK Kecamatan, Pokja 4 TP PKK Kecamatan, serta tenaga promosi kesehatan dari 25 Puskesmas.

Marshall mengatakan keterlibatan TP PKK penting karena kader memiliki kedekatan dengan keluarga dan masyarakat.

Kondisi tersebut dinilai dapat membantu penyampaian informasi mengenai pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular.

“TP PKK memiliki kedekatan dengan masyarakat dan keluarga, sehingga dapat menjadi mitra strategis untuk mengedukasi, mengingatkan, dan mendorong masyarakat menerapkan perilaku hidup sehat,” katanya.

Selain tenaga kesehatan dan kader, keluarga pasien juga dinilai memiliki peran penting dalam menjaga kepatuhan pengobatan.

Keluarga dapat membantu mengingatkan jadwal pengobatan, menjaga pola makan, mendorong aktivitas fisik, serta mengajak pasien melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.

“Nah yang kita harapkan bukan sekadar pasien mengetahui bahwa dirinya menderita hipertensi atau diabetes melitus. Lebih dari itu, pasien harus mampu mengelola penyakitnya secara berkelanjutan dengan dukungan keluarga dan lingkungan,” pungkasnya. (*)


Editor: Mohammad S

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.