Probolinggo,- Manajemen RSUD Waluyo Jati Kraksaan Kabupaten Probolinggo, mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan sementara dokter spesialis bedah, CBM, dari pelayanan medis.
Keputusan tersebut diambil usai mencuatnya sorotan publik terkait dugaan lambatnya penanganan medis terhadap Pauzi (52), pasien kecelakaan asal Desa Alassumur Lor, Kecamatan Besuk, yang meninggal dunia, Sabtu (12/9/26) malam.
Penonaktifan CBM, dikonfirmasi langsung oleh Direktur RSUD Waluyo Jati, dr. Yessi Rahmawati, di hadapan Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris saat ia menggelar inspeksi mendadak (sidak) pada Senin (14/9/26) siang.
Langkah penonaktifan ini, menurut Yessy, dilakukan sembari menunggu hasil evaluasi menyeluruh dan audit internal yang tengah dilakukan tim rumah sakit bersama komite medis.
“Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan keluarga. Mengenai dokter spesialis yang menangani pasien saat itu, saat ini sudah kami nonaktifkan sementara dari pelayanan sampai proses evaluasi selesai,” kata Yessi.
Kronologi Kejadian
Kasus ini bermula saat Pauzi dirujuk ke RSUD Waluyo Jati pada Selasa (8/9/2026) malam akibat kecelakaan lalu lintas. Berdasarkan keterangan keluarga, hasil pemeriksaan awal dan CT scan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) menunjukkan pasien mengalami gegar otak ringan tanpa adanya pendarahan pada otak.
Namun, pihak keluarga mengungkapkan adanya penundaan penanganan medis yang signifikan. Sabri (46), perwakilan keluarga pasien, menyebut Pauzi sempat menunggu kepastian tindakan dari dokter spesialis selama lebih dari 30 jam.
Penjahitan luka berat pada tubuh korban juga ditunda dengan alasan akan dikerjakan berbarengan saat operasi penanganan patah tulang.
Pasien baru menjalani operasi pada Kamis (10/9/26) malam setelah dipindahkan ke Ruang Cempaka. Usai operasi, kondisi kesehatan Pauzi memburuk hingga harus dipindahkan ke ruang ICU pada Jumat (11/9/26).
Di ruang penanganan intensif tersebut, keluarga baru diberi tahu adanya patah tulang rusuk yang melukai paru-paru serta pendarahan rongga dada sehingga memerlukan tindakan Water Seal Drainage (WSD).
Pihak keluarga mengaku sempat meminta agar Pauzi dirujuk ke rumah sakit lain, namun pihak rumah sakit menyatakan pasien masih mampu ditangani di RSUD Waluyo Jati hingga akhirnya pasien menghembuskan napas terakhir.
Teguran Bupati Gus Haris dan Janji Evaluasi Total
Saat melakukan sidak langsung ke UGD dan berkoordinasi dengan jajaran rumah sakit, Bupati Probolinggo Gus Haris menegaskan pentingnya keterbukaan dan evaluasi mendalam untuk mengusut dugaan pelanggaran SOP maupun masalah komunikasi dengan pasien.
“Apapun yang viral dan dikeluhkan masyarakat harus kita kaji secara obyektif. Kita harus memastikan apakah ada kelemahan pelayanan, kendala personal dengan tenaga medis, atau SOP yang tidak berjalan dengan benar. Karena jika rumah sakit kehilangan kepercayaan publik, mengembalikannya sangat sulit,” wanti Gus Haris.
Bupati menyatakan telah berkomunikasi langsung dengan keluarga korban untuk mencocokan kronologi (matching) dengan laporan tim medis.
Hasil audit independen yang diperkirakan selesai dalam tiga hari mendatang akan menjadi pijakan untuk menentukan langkah perombakan sistem pelayanan jika ditemukan kelalaian.
RSUD Siap Mediasi dan Hadapi Prosedur Hukum
Direktur RSUD Waluyo Jati, dr. Yessi Rahmawati, menerangkan bahwa pihaknya tetap berupaya memberikan tindakan terbaik sejak pasien datang di IGD.
Mengenai rujukan, dr. Yessi menyebut telah menghubungi enam rumah sakit untuk mencari penanganan trauma dada yang memerlukan dokter Bedah Thoraks Kardiovaskuler (BTKV), namun seluruh rumah sakit rujukan dalam kondisi penuh.
“Dokter spesialis yang menangani pasien saat itu, ymsementara waktu sudah kami off-kan dari pelayanan sampai evaluasi bersama selesai. Kami tidak menutup mata dan telinga atas keluhan masyarakat,” tutur dr. Yessi.
Menanggapi rencana pihak keluarga yang akan membawa persoalan ini ke jalur hukum, manajemen RSUD Waluyo Jati menyatakan siap menghormati prosedur hukum yang ada.
Kendati demikian, rumah sakit tetap memprioritaskan upaya mediasi dan pendekatan kekeluargaan. “Ini demi memberikan kejelasan informasi kepada keluarga almarhum,” tutup Yessy. (*)












