Probolinggo,— Keluarga almarhum Pauzi (52), warga Dusun Krajan, Desa Alassumur Lor, Kecamatan Besuk, mempertanyakan kejelasan penanganan medis di RSUD Waluyo Jati Kraksaan, Kabupaten Probolinggo.
Sepupu korban, Sabri (46), mengungkapkan bahwa korban sempat ditelantarkan lebih dari 30 jam tanpa kepastian dokter spesialis sebelum akhirnya dirujuk ke ruang ICU dan dinyatakan meninggal dunia pada Sabtu (12/9/26) malam.
Peristiwa ini bermula ketika Pauzi dilarikan ke RSUD Waluyo Jati pada Selasa (8/9/2026) malam usai mengalami kecelakaan lalu lintas.
Di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), korban sempat menjalani pembersihan luka parah serta pemeriksaan CT scan.
Hasil awal pemeriksaan medis saat itu menunjukkan korban mengalami gegar otak ringan tanpa adanya pembekuan atau bercak darah di area otak.
Menurut Sabri, pihak keluarga semula diberi tahu bahwa luka korban akan segera dijahit bersamaan dengan rencana operasi yang melibatkan tiga dokter spesialis, yakni spesialis ortopedi, bedah tulang, dan bedah saraf.
Namun, penanganan medis.tersebut tak kunjung terealisasi hingga korban dipindahkan ke Ruang Cempaka pada Rabu (9/9/26).
“Nah, ternyata yang awalnya bilang mau dijahit itu tidak jadi karena tidak dibolehkan sama dokter jaga dengan alasan akan sekalian dijahit saat operasi biar hasilnya bagus. Sampai akhirnya korban dipindah ke Ruang Cempaka,” jelas Sabri, Minggu (13/9/26).
Selama berada di Ruang Cempaka, kondisi Pauzi justru kian merosot. Pihak keluarga berulang kali meminta kepastian jadwal tindakan dari tiga dokter spesialis.
Namun mereka hanya mendapatkan jawaban tidak pasti dari perawat jaga. Sabri menyebut korban hanya diberi obat-obatan tanpa adanya tindakan operasi mendesak.
Kepastian operasi baru didapatkan pada Kamis (10/9/26) pagi setelah salah satu dokter menemui keluarga. Kendati demikian, tindakan operasi baru dilaksanakan pada Kamis malam saat kondisi fisik korban sudah kian memburuk.
Usai menjalani operasi dan dipindahkan ke ruang ICU pada Jumat (11/9/2026), keluarga kembali dikejutkan oleh pemberitahuan medis lanjutan.
Pihak rumah sakit menyatakan terdapat patah tulang rusuk yang menembus organ paru-paru sehingga memicu pendarahan dan memerlukan tindakan pemasangan selang.
“Saya sempat kaget karena dari awal tidak ada keterangan tulang rusuk masuk ke paru-paru korban. Saya sebelumnya sudah meminta agar dirujuk, tapi rumah sakit bilang masih sanggup untuk operasi saudara saya,” tegas Sabri.
Setelah tindakan pemasangan selang tersebut, kondisi kesehatan Pauzi tak kunjung membaik hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Sabri menyesalkan minimnya komunikasi dan respons lambat dari jajaran tenaga medis yang menangani sepupunya tersebut.
“Intinya setelah 30 jam lebih korban ditelantarkan, saya minta dirujuk tapi rumah sakit bilang masih menyanggupi. Malah setelah operasi baru diberitahu ada tulang yang masuk ke paru-paru dan harus dipasang selang sampai kondisi korban makin buruk dan akhirnya meninggal dunia,” geramnya.
Upaya konfirmasi telah dikirimkan wartawan media ini kepada Direktur RSUD Waluyo Jati Kraksaan, dr. Yessy Rahmawati, melalui pesan pribadi WhatsApp (WA) pada Minggu (13/9/2026) pukul 18.30 WIB.
Namun hingga berita ini ditayangkan selang satu jam kemudian, Yessy memilih bungkam meski pesan WA sudah menandakan terkirim dan terbaca. (*)












