Lumajang,- Unggahan di media sosial (medsod) dari akun ‘facebook’ (FB) Samsul Arifin yang mengeluhkan pelayanan RSUD dr. Haryoto Lumajang memicu gelombang reaksi dari warganet.

Dalam unggahannya, Samsul menceritakan kronologi meninggalnya ibunya setelah sempat menjalani perawatan di RSUD dr. Haryoto Lumajang. Ia menyebut, ibunya mengalami sesak napas dan muntah darah.

Permintaan keluarga agar pasien mendapatkan terapi asap (nebulizer) saat itu belum dapat dipenuhi. Berdasarkan penjelasan yang diterima keluarga, tindakan tersebut belum diputuskan karena dokter penanggung jawab belum berada di lokasi.

Unggahan tersebut langsung dibanjiri komentar masyarakat. Sebagian warganet mempertanyakan lambatnya pengambilan keputusan medis, sementara yang lain membagikan pengalaman serupa.

Akun Edy Kusnan menilai sistem pelayanan rumah sakit terlalu kaku dan bergantung pada keberadaan dokter.

“RSU kebanyakan aturan main dan tidak ada yang berani mengambil keputusan. Alasan umum, tunggu kabar dokter,” tulisnya.

Sementara akun Reed Blahen meminta pihak manajemen melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tenaga kesehatan yang bertugas dan mempertanyakan keberadaan dokter piket saat kondisi darurat terjadi.

Akun Veean Chwe mengaitkan kejadian ini dengan isu pelayanan kesehatan yang sempat viral sebelumnya seraya menyampaikan belasungkawa.

Adapun akun MystikalFlamingo 2801 dan akun Nda membagikan dugaan serta pengalaman pribadi terkait perbedaan penanganan antara pasien BPJS Kesehatan dan pasien umum, meski klaim pengalaman pribadi tersebut belum terverifikasi secara independen.

Klarifikasi Rumah Sakit

Direktur RSUD dr Haryoto Lumajang, dr. Wawan Arwijanto, mengatakan bahwa pelayanan rumah sakit dalam unggahan viral di media sosial bergantung pada cara pandang masing-masing.

Wawan membenarkan pasien yang menjadi sorotan dalam unggahan tersebut memang dirawat dan meninggal di RSUD dr Haryoto.

Namun, ia menegaskan rumah sakit tidak mengabaikan pelayanan medis sebagaimana yang berkembang di media sosial.

“Kami tidak bisa mengendalikan viral atau tidaknya suatu kejadian. Yang kami lakukan di sini sudah semaksimal mungkin dan seoptimal mungkin,” kata Wawan, Jumat (7/8/26).

Menurutnya, RSUD dr Haryoto merupakan rumah sakit rujukan di Kabupaten Lumajang yang setiap hari menangani pasien dengan tingkat keparahan tinggi.

“Oleh karena itu, hasil pengobatan maupun tindakan medis tidak selalu dapat menentukan keselamatan pasien,” imbuh Wawan.

Menanggapi isi unggahan yang menyebut dokter tidak berada di lokasi ketika kondisi pasien memburuk, Wawan mengatakan pelayanan tetap berjalan sesuai prosedur.

Ia mengklaim, rumah sakit menyiagakan dua dokter jaga selama 24 jam di Instalasi Gawat Darurat (IGD), sementara setiap ruang perawatan dijaga tenaga perawat dan dipantau dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP) sesuai bidang spesialisasi.

“Pasiennya memang ada dan benar meninggal di Ruang Melati. Tetapi penilaian mengenai pelayanan itu tergantung cara pandang masing-masing. Ada dokter jaga 24 jam, perawat di setiap ruangan, dan dokter penanggung jawab pasien sesuai spesialisasinya,” bebernya.

Wawan menjelaskan penyebab kematian pasien berdasarkan penilaian medis berkaitan dengan gangguan jalan napas akibat batuk darah.

“Darah yang memenuhi paru-paru menghambat masuknya oksigen sehingga kondisi pasien dapat memburuk dalam waktu singkat,” tandasnya.

Ia juga menepis anggapan bahwa pasien gawat darurat harus menunggu dokter penanggung jawab sebelum memperoleh tindakan medis.

“Dokter jaga IGD yang memiliki sertifikasi kegawatdaruratan langsung melakukan stabilisasi pasien, sedangkan konsultasi kepada DPJP dilakukan setelah kondisi pasien terkendali,” sanggahnya. (*)


 

Editor: Mohammad S

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.