Probolinggo,– Langkah kaki Ketua Umum Dekranasda Kabupaten Probolinggo, Ning Marisa Juwitasari Moh. Haris, terhenti di sebuah bengkel kerja sederhana milik Mat dan Sunarse, di Desa Alaskandang, Kecamatan Besuk.
Di desa ini, deru kehidupan berputar di atas roda putar tradisional. Di tangan-tangan renta perajinnya, tanah liat yang dingin disulap menjadi beragam perabot bernilai seni tinggi.
Namun, ada sebuah momen kehangatan sekaligus kejutan yang menyelimuti kunjungan kerja istri Bupati Probolinggo, Mohammad Haris, pada Senin (3/8/26) tersebut.
Ning Marisa tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya saat menyadari bahwa perabot tanah liat yang pernah ia beli saat berkunjung ke Pulau Madura, ternyata lahir dari jemari terampil warga Desa Alaskandang.
“Alhamdulillah hari ini saya berkesempatan berkunjung ke Desa Alaskandang. Nah yang paling membuat saya kagum sekaligus terkejut, ketika saya membeli cowek, teko, dan gerabah di luar daerah, ternyata produksinya berasal dari Kabupaten Probolinggo. MasyaAllah, luar biasa,” ungkap Ning Marisa penuh rasa bangga.
Karya Lokal yang Melintas Pulau
Kunjungan yang dihadiri jajaran Dekranasda, Camat Besuk, hingga perangkat desa setempat ini menjadi bukti nyata betapa tangguh produk lokal Probolinggo.

Berbagai hasil kerajinan seperti cobek, kendi, teko, celengan, pot bunga, hingga tungku sate ditata rapi.
Tanpa banyak publikasi besar-besaran, gerabah Alaskandang ternyata telah menembus pasar luar daerah, memasok Pulau Madura, hingga menerima pesanan dari luar pulau.
Bagi Ning Marisa, pengalaman pribadinya membeli gerabah di Madura menjadi bukti otentik bahwa kualitas tanah liat dan ketelitian perajin Alaskandang memiliki daya saing tinggi di pasar regional.
Potensi ini tak hanya merawat kebudayaan warisan leluhur, tetapi juga menjadi penopang ekonomi keluarga di desa tersebut.
Panggilan Jiwa untuk Generasi Muda
Di balik kebanggaan tersebut, terselip cerita haru sekaligus tantangan besar. Mat, selaku ketua kelompok perajin setempat, menuturkan bahwa industri kerajinan ini kini tengah krisis penerus.
Sebagian besar perajin yang bertahan adalah lansia, sementara pesanan dari berbagai daerah terus mengalir hingga mereka kekurangan tenaga kerja.
Menanggapi hal itu, Ning Marisa menyampaikan pesan hangat yang menyasar hati anak-anak muda di Desa Alaskandang agar tidak berkecil hati melanjutkan warisan ini.
Menjadi perajin gerabah, menurutnya, adalah peluang bisnis yang menjanjikan di tengah tingginya permintaan pasar. Disamping itu, Seni tanah liat melatih ketelitian, estetika, dan jiwa kewirausahaan.
Generasi muda, dijelaskannya, adalah kunci agar identitas budaya Probolinggo tidak padam digerus zaman. Oleh karenanya, ia berpesan agar anak-anak muda di Desa Alaskandang, tidak pernah merasa gengsi bekerja menjadi pengrajin gerabah.
“Ini bisnis yang luar biasa. Pak Mat mengaku masih kekurangan tenaga kerja karena mayoritas perajin sudah berusia lanjut. Kami sangat berharap anak-anak muda mau meneruskannya,” tutur Ning Marisa menyemangati.
Menatap Masa Depan Kesejahteraan Desa
Apresiasi mendalam turut disampaikan oleh Kepala Desa Alaskandang, Mohammad Muhibbur Ridho. Kunjungan Dekranasda dinilai menjadi suntikan semangat baru bagi para perajin lokal yang selama ini bekerja dalam senyap.
Ridho berharap momen ini menjadi pijakan awal kolaborasi yang makin erat antara pemerintah daerah dan masyarakat desa.
“Melalui program pelatihan, pembinaan, serta promosi yang lebih agresif dari Pemkab Probolinggo, saya yakin gerabah Alaskandang mampu menembus pasar nasional dan membawa kesejahteraan yang lebih baik bagi seluruh warga desa,” beber Ridho. (*)












