Lumajang,- Sebanyak 500 penari menghidupkan kembali kisah kejayaan Kerajaan Lamadjang melalui pagelaran kolosal Segoro Topeng Kaliwungu 2026 bertajuk Lamadjang The Land of Glory di Pantai Watu Pecak, Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Minggu (28/6/26) siang.
Pertunjukan yang menjadi bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 itu tidak hanya menghadirkan spektakel seni di ruang terbuka, tetapi juga menjadi medium pelestarian Tari Topeng Kaliwungu yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada 2021.
Selama pertunjukan berlangsung, ratusan penari memenuhi bibir Pantai Watu Pecak dengan koreografi yang menggambarkan perjalanan Kerajaan Lamadjang.
Tata artistik, gerak tari, musik tradisional, dan lanskap pesisir disatukan menjadi sebuah drama kolosal yang mengisahkan kejayaan kerajaan yang pernah berkembang di wilayah Lumajang.
Tak Sekadar Tarian
Cerita yang diangkat dalam Lamadjang The Land of Glory bukan sekadar menghadirkan pertunjukan tari.
Sendratari tersebut berupaya merekonstruksi ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah Lamadjang melalui pendekatan seni pertunjukan.
Ribuan pasang mata menyaksikan kisah itu dipentaskan di ruang terbuka dengan latar ombak Pantai Selatan yang menjadi bagian dari panggung alami pertunjukan.
Pagelaran itu juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali Tari Topeng Kaliwungu sebagai identitas budaya Lumajang.

Pada 2021 silam, tarian tersebut ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Pimpinan Generasi III Paguyuban Sri Katon Budaya Tirto Hadi, yang merupakan cucu Mbah Nemo, mengatakan, Tari Topeng Kaliwungu merupakan hasil perpaduan Tari Topeng Madura dan Tari Topeng Jawa.
“Perpaduan itu melahirkan seni pendalungan yang menjadi ciri khas kebudayaan masyarakat Lumajang,” kata Mbah Nemo.
Akulturasi budaya tersebut, sambung Mbah Nemo, menjadi kekuatan utama Tari Topeng Kaliwungu. Karena lahir dari pertemuan dua tradisi, tarian itu tidak sekadar memiliki nilai estetika.
“Tetapi juga merekam sejarah perjumpaan budaya Jawa dan Madura yang berkembang di kawasan tapal kuda,” ucapnya.
Merawat Sejarah
Bupati Lumajang Indah Amperawati menyebut, kisah Kerajaan Lamadjang sengaja diangkat dalam bentuk drama kolosal sebagai bagian dari upaya merawat sejarah daerah melalui seni pertunjukan.
“Masuknya Segoro Topeng Kaliwungu dalam Karisma Event Nusantara memberi kesempatan bagi Lumajang memperkenalkan warisan budayanya kepada publik yang lebih luas,” ucap Indah.
“Jadi hari ini menyajikan kisah tentang Kerajaan Lamajang dan ini merupakan drama kolosal. Karisma Event Nusantara yang digelar memberikan kesempatan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia tentu dengan tujuan melestarikan seni dan budaya yang ada di Kabupaten Lumajang,” tambahnya.
Bupati mengatakan, Tari Topeng Kaliwungu merupakan warisan budaya yang harus terus dijaga sekaligus dikembangkan.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang, kata dia, memiliki tanggung jawab untuk memenuhi komitmen pelestarian setelah kesenian tersebut ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda.
“Topeng Kaliwungu merupakan warisan budaya tak benda yang memang harus kami jaga kelestariannya serta akan kami kembangkan karena itu merupakan syarat dan komitmen yang disampaikan pemerintah pusat kepada kami sebagai penyandang KEN dan WBTB,” jelasnya.
Dijelaskan, pengembangan kesenian itu akan dilakukan secara berkelanjutan, salah satunya melalui sekolah-sekolah agar generasi muda mengenal sekaligus mewarisi Tari Topeng Getak Kaliwungu.
“Pertunjukannya luar biasa. Dari luar Kabupaten Lumajang juga banyak yang hadir, kemudian turis-turis dari beberapa negara juga hadir melalui Bali,” ia memungkasi. (*)












