Probolinggo,- Di bawah hamparan langit pesisir Pantai Darmo, Desa Banjarsari, Kecamatan Sumberasih, suasana mendadak riuh, Minggu (12/7/26).

Air laut yang tenang seketika pecah oleh riak gelombang dan deru mesin yang saling bersahutan.

Selama dua hari penuh, pantai ini menjadi saksi bisu kemeriahan tradisi tahunan yang telah mengakar selama puluhan tahun: Lomba Balap Perahu Fiber.

Bukan sekadar ajang adu kecepatan, kompetisi yang dinanti-nantikan ini menjadi panggung kebersamaan sekaligus perajut tali silaturahmi yang kuat di antara para nelayan se-Kecamatan Sumberasih dan sekitarnya.

Harmoni Kecepatan dan Pasang Surut Lautan

Tahun ini, atmosfer perlombaan terasa kian hidup dengan kehadiran 50 peserta yang siap menguji ketangkasan mereka di atas air. Panitia membagi kompetisi ke dalam dua kategori yang menantang:

Kelas A, diperuntukkan bagi perahu dengan panjang hingga 6,2 meter. Sementara Kelas B, dikhususkan untuk perahu kokoh dengan panjang melebihi 6,2 meter.

Guna menjaga keadilan dan sportivitas, seluruh perahu diwajibkan menggunakan mesin dengan kekuatan yang seragam, yakni 6,5 PK.

“Lomba ini merupakan kegiatan tahunan. Selain sebagai ajang silaturahmi antar nelayan, juga untuk memberikan hiburan yang segar kepada masyarakat,” ujar Ketua Panitia, Muhammad Saturi.

Perhelatan ini digelar secara dinamis mengikuti ritme alam. Babak penyisihan dimulai pada hari Sabtu, sementara babak semifinal dan final memuncak pada hari Minggu.

Pengaturan waktu selama dua hari ini bukanlah tanpa alasan; panitia harus dengan cermat menghitung pasang surut air laut agar lintasan balap sepanjang 2 kilometer tetap aman dan ideal untuk diarungi.

Sederhana namun Mendebarkan

Aturan main yang diterapkan cukup sederhana namun tetap menjanjikan ketegangan yang tinggi.

BERNYALI: Nelayan peserta balap perahu fiber saat berhasil meninggalkan peserta lainnya di Pantai Darmo, Desa Banjarsari, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo (foto: Hafiz Rozani)

Dalam setiap heat, empat perahu akan dilepas bersamaan untuk berpacu mengelilingi lintasan sebanyak tiga putaran.

Kecepatan, ketepatan membelah ombak, dan ketahanan mesin menjadi kunci—siapa yang menyentuh garis finis paling awal, dialah yang berhak melaju ke babak berikutnya hingga meraih takhta juara.

Antusiasme yang meluap tidak hanya datang dari para peserta, tetapi juga dari ribuan pasang mata penonton yang memadati bibir pantai.

“Alhamdulillah, selain peserta balap yang membludak hingga mencapai 50 orang, penonton juga sangat banyak karena ajang ini memang menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat,” tambah Saturi dengan nada penuh syukur.

Magnet Hiburan Masyarakat Pesisir

Bagi warga setempat, lomba balap perahu ini telah menjadi festival rakyat yang magis. Kehadirannya selalu dirindukan, memicu kerelaan untuk berkorban demi menyaksikannya dari dekat.

Slah seorang pengunjung Rizka, menceritakan bagaimana magisnya acara ini bagi keluarganya. Ia bahkan rela menerjang genangan air payau demi mendapatkan posisi menonton terbaik di tepi pantai.

“Saya tiap tahun selalu lihat lomba ini. Tadi malah anak saya yang tidak sabaran dan minta cepat-cepat berangkat dari rumah,” tuturnya sembari tersenyum lebar.

Saat matahari mulai condong ke barat dan riak air Pantai Darmo perlahan kembali tenang, esensi dari balap perahu fiber ini mengkristal dengan indah.

Di balik medali dan predikat juara, kemenangan sejati dari tradisi ini adalah lestarinya rasa persaudaraan dan senyum yang mengembang di wajah masyarakat pesisir Probolinggo. (*)

Editor: Mohammad S

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.