Probolinggo – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, menuai protes keras dari wali murid.

Sejumlah siswa di SMPN 1 Pajarakan dilaporkan menerima menu makanan yang tidak layak konsumsi, mulai dari tahu berbulu jamur, buah salak busuk, sayur basi, hingga nasi kuning yang mengeluarkan aroma tidak sedap.

Sajian yang jauh dari standar pemenuhan gizi tersebut dikirimkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Rumah Gizi Sukokerto, yang berlokasi di Dusun Lumbang RT/RW 4/1, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo.

Temuan ini mencuat setelah seorang wali murid berinisial K melaporkan kondisi hidangan tersebut kepada pihak humas sekolah.

Keresahan para orang tua murid dinilai sangat mendasar. Pasalnya, program MBG merupakan program strategis pemerintah yang berkaitan langsung dengan kesehatan dan tumbuh kembang anak.

Humas SMPN 1 Pajarakan, Taufik, mengaku turun langsung untuk memantau kondisi menu yang dibagikan kepada siswa. Berdasarkan pengamatannya, persoalan kelayakan makanan ini ternyata tidak hanya terjadi sekali saja.

“Selama ini yang terpantau oleh saya terkait menu di SPPG, ketika saya cek, masih ada yang kurang. Kalau nasi itu masih aman. Tapi dari lauk pauknya ada yang bau, ada yang tidak ada rasanya. Kemudian dari tahu dan yang lain. Kayak buah-buahan, masih banyak yang tidak layak untuk dimakan,” ujar Taufik, Senin (15/6/26).

Menurutnya, persoalan paling banyak ditemukan pada komponen lauk pendamping dan kualitas buah segar yang dibagikan kepada siswa.

Beberapa menu bahkan sudah menunjukkan tanda-tanda tidak layak konsumsi sebelum jam makan siang sekolah dimulai.

Bukan Penolakan

Taufik menegaskan bahwa kritik dan protes yang disampaikan para wali murid sama sekali bukan bentuk penolakan terhadap program MBG.

Pihak sekolah dan orang tua sangat mendukung tujuan mulia program ini karena dinilai penting bagi pemenuhan nutrisi siswa. Namun, niat baik pemerintah harus dibarengi dengan standar pengawasan mutu pangan yang ketat di lapangan.

“Kita bukan menolak, tapi kita berkonfirmasi kepada SPPG-nya. Seharusnya tidak langsung komplain secara face to face. Tapi dengan adanya menu yang tidak layak untuk dikonsumsi oleh anak kita, ya kita harus bicara,” beber dia.

Para wali murid mendesak adanya evaluasi nyata agar kualitas makanan yang diterima siswa ke depannya benar-benar aman dan higienis. Sayangnya, respons awal dari pihak pengelola SPPG dinilai belum memberikan jawaban yang substansial.

“Jawabannya hanya sebatas permohonan maaf. ‘Bapak, nanti kita perbaiki.’ Begitu saja,” kata Taufik.

Ia menyayangkan tidak adanya penjelasan rinci mengenai penyebab kerusakan makanan maupun langkah konkret pengawasan lanjutan. “Agar kejadian serupa tidak terulang,” tutur Taufik.

Respons Koordinator SPPG

Saat dikonfirmasi terpisah melalui sambungan pribadi WhatsApp (WA), Hatip selaku Koordinator SPPG untuk SMPN 1 Pajarakan membenarkan adanya laporan dari lapangan terkait kualitas menu MBG tersebut.

Namun, jawaban pendek yang disampaikan justru memunculkan pertanyaan baru mengenai efektivitas sistem kontrol kualitas (quality control) makanan sebelum didistribusikan ke sekolah.

“Ya intinya SPPG minta maaf. Kalau ada laporan dari bawah, saya tampung, nanti kita nilai,” ujarnya singkat. (*)

Editor: Mohammad S

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.