Jember,- Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Jember tercatat melampaui rata-rata Provinsi Jawa Timur.
Namun di tengah capaian tersebut, persoalan stunting masih menjadi pekerjaan rumah besar yang perlu segera ditangani dalam pembangunan daerah.
Hal itu terungkap dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2027 yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember di Pendopo Wahyawibawagraha, Senin (9/3/26).
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Imam Hidayat, menyampaikan, indikator makro pembangunan Kabupaten Jember menunjukkan perkembangan positif, terutama dari sisi ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi Jember tercatat mencapai 5,47 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata Provinsi Jawa Timur yang berada di angka 5,33 persen, bahkan juga berada di atas rata-rata nasional.
“Capaian ini menunjukkan pembangunan ekonomi di daerah bergerak ke arah yang lebih baik,” ujarnya.
Selain itu, tingkat pengangguran terbuka di Kabupaten Jember juga relatif rendah.
Saat ini angkanya berada di 3,07 persen, lebih rendah dibandingkan tingkat pengangguran di Jawa Timur yang mencapai 3,71 persen maupun nasional yang berada di angka 4,74 persen.
Menurut Imam, kondisi tersebut menandakan strategi pembangunan yang dijalankan mulai berdampak pada peningkatan kesempatan kerja dan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.
Meski demikian, ia mengingatkan, masih ada sejumlah tantangan pembangunan yang perlu menjadi perhatian serius.
Salah satunya adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia yang tercermin dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Jember yang saat ini berada di angka 71,57.
Selain itu, persoalan stunting juga masih menjadi isu penting yang harus ditangani secara bersama.
Imam menjelaskan, stunting tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi anak, tetapi juga dipengaruhi berbagai faktor lain seperti pendidikan orang tua, pola asuh, hingga kesiapan pasangan dalam membangun keluarga.
“Stunting tidak hanya soal gizi, tetapi juga pola asuh dan kesiapan orang tua. Jika pasangan belum siap membangun keluarga, tentu akan berdampak pada tumbuh kembang anak,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mendorong pengembangan wilayah selatan Jember sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Wilayah tersebut dinilai memiliki potensi besar di sektor pertanian, perkebunan, perikanan hingga pariwisata yang dapat menjadi motor penggerak ekonomi daerah jika dikelola secara terpadu.
Selain itu, Jember juga memiliki komoditas unggulan berkelas dunia, yakni tembakau cerutu yang telah lama menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi.
“Tembakau Jember dikenal hingga pasar internasional dan menjadi salah satu komoditas yang mampu bertahan di pasar global,” jelasnya.
Sementara itu, Bupati Jember Muhammad Fawait menegaskan, pemerintah daerah berkomitmen melibatkan masyarakat secara langsung dalam proses perencanaan pembangunan.
Melalui program Bunga Desaku (Bupati Ngantor di Desa dan Kelurahan), pemerintah daerah akan turun langsung ke desa-desa untuk menyerap aspirasi masyarakat terkait kebutuhan pembangunan.
“Kita ingin mendengar langsung apa yang dibutuhkan masyarakat, bukan hanya melalui perwakilan,” ujar Fawait.
Ia menambahkan, fokus utama pembangunan Kabupaten Jember pada periode 2026 hingga 2027 adalah pengentasan kemiskinan.
Pemerintah daerah juga akan membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pengentasan Kemiskinan yang bekerja berbasis data terpadu Badan Pusat Statistik (BPS), agar bantuan dapat diberikan secara tepat sasaran kepada kelompok masyarakat desil satu hingga desil empat.
Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga pertumbuhan ekonomi Jember tetap kuat, sekaligus meningkatkan kualitas kesejahteraan masyarakat secara merata. (*)












