Lumajang,- Jumlah penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kabupaten Lumajang terus bertambah.
Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Lumajang mencatat 241 kasus baru HIV hingga Juli 2026, sehingga total penderita yang tercatat kini mencapai sekitar 1.000 orang.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes P2KB Lumajang, dr. Marshall, mengatakan tambahan kasus tersebut berasal dari hasil pemeriksaan dan penemuan kasus yang dilakukan sepanjang tahun ini.
Menurutnya, karena terapi HIV berlangsung seumur hidup, jumlah penderita terus terakumulasi.
“Data terakhir yang saya lihat itu ada 1.000, itu total dengan yang dulu juga. Tapi selama 2026 ada 241 kasus baru,” kata Marshall, Senin (27/7/2026).
Meski jumlah kasus baru cukup tinggi, Marshall mengatakan hanya sebagian penderita yang bersedia menjalani terapi antiretroviral (ARV). Dari 241 pasien baru, hanya 78 orang yang telah memulai pengobatan.
“Dari 241 ini, yang siap melakukan pengobatan dengan ARV itu 78 orang,” ujarnya.
Menurut Marshall, sebagian pasien belum bersedia menjalani pengobatan karena tidak merasakan gejala, masih mencari pendapat tenaga kesehatan lain, memilih pengobatan herbal, hingga merasa malu akibat stigma negatif yang masih melekat pada penyakit HIV.
“Ada juga yang merasa belum yakin, jadi masih cari tenaga kesehatan lainnya. Ada juga memilih herbal dan ada juga yang malu untuk berobat,” katanya.
Ia menilai stigma di masyarakat masih menjadi tantangan dalam upaya pengendalian HIV. Banyak penderita khawatir identitasnya diketahui orang lain sehingga memilih menunda pengobatan.
“Sama seperti dulu saat Covid-19, ada yang memilih mengobati sendiri karena khawatir tetangganya tahu. Tapi HIV dampaknya lebih berat karena pengobatannya berlangsung seumur hidup,” ucap dia.
Marshall mengatakan kasus HIV kini tersebar hampir di seluruh kecamatan di Kabupaten Lumajang.
Ia menilai, kondisi tersebut dipengaruhi tingginya mobilitas penduduk, termasuk warga yang bekerja di luar daerah lalu kembali ke Lumajang setelah terdiagnosis.
Ia menjelaskan mayoritas penularan HIV masih terjadi melalui hubungan seksual berisiko dengan berganti-ganti pasangan, termasuk hubungan sesama jenis, yang menyebabkan pertukaran cairan tubuh dengan penderita HIV.
“Sebagian besar penularannya karena pertukaran cairan tubuh antara orang kena HIV dengan orang lain, terutama melalui hubungan seksual berisiko,” pungkasnya. (*)












