Lumajang,- Puncak B29 yang selama ini dikenal sebagai salah satu ikon wisata alam Kabupaten Lumajang menghadapi tantangan serius.

Di tengah berbagai upaya promosi wisata yang dilakukan pemerintah daerah, jumlah pengunjung ke destinasi yang dijuluki Negeri di Atas Awan itu belum menunjukkan peningkatan signifikan.

Dani (29), wisatawan asal Surabaya, mengaku masih terpesona dengan panorama yang ditawarkan B29.

Namun, kondisi infrastruktur menuju lokasi dinilainya belum mendukung kenyamanan wisatawan.

“Pemandangannya saya akui sangat bagus. Cuma kalau soal infrastruktur saya pribadi sangat kurang nyaman. Karena jalannya rusak dan fasilitas kurang memadai,” kata Dani ditemui di kaki bukit B29, Jumat (19/6/26).

Keluhan serupa juga dirasakan warga sekitar yang selama ini kerap menggantungkan sebagian penghasilannya dari sektor wisata.

Tarmidi (42) warga Desa Argosari, Kecamatan Senduro, mengakui bahwa dirinya kini.kembali mengandalkan hasil pertanian setelah kunjungan wisatawan menurun.

Menurutnya, kondisi B29 saat ini jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Saat itu, wisatawan domestik maupun mancanegara rutin datang sehingga dapat menggerakkan roda ekonomi masyarakat setempat.

“Semenjak pengunjung B29 sepi, saya hanya mengandalkan hasil tani. Dulu banyak turis yang datang ke sini. Sekarang masyarakat lokal saja masih berpikir dua kali kalau mau ke sini,” keluhnya.

Respons Dinas Pariwisata

Sementara itu, Kepala Bidang Destinasi Wisata Dinas Pariwisata Kabupaten Lumajang, Galih Permadi, mengakui jumlah kunjungan ke B29 masih relatif rendah.

Pada akhir pekan, rata-rata pengunjung yang datang hanya sekitar 20 orang. “Tamu masih landai. Kalau pengunjung weekend rata-rata 20-an yang datang ke Puncak B29,” tutur Galih.

Ia mengklaim, Dinas Pariwisata Kabupaten Lumajang tengah menyiapkan sejumlah langkah untuk menghidupkan kembali aktivitas wisata di kawasan tersebut.

Salah satunya dengan menggandeng relawan asing yang akan ditempatkan di B29 serta memberikan pelatihan bahasa Inggris. Selain itu, juga penguatan budaya kepada pemuda Desa Argosari.

Pemerintah daerah juga telah membentuk komunitas pengelola serta melakukan penyamaan tarif layanan wisata dari rest area menuju lokasi B29 sebesar Rp75 ribu pulang-pergi.

Galih tidak menampik bahwa kondisi jalan menuju B29 masih menjadi persoalan yang dikeluhkan wisatawan. Namun, ia mengklaim pemerintah daerah telah menyiapkan program rehabilitasi pada tahun ini.

“Kalau akses jalan memang masih rusak, tahun ini ada rehabilitasi. Memang kurang promosi dan inovasi,” Galih memungkasi. (*)

Editor: Mohammad S

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.