Banyuwangi,- Siapa yang tak kenal Bali sebagai destinasi wisata di Indonesia paling terkenal di dunia? Identik dengan wisata alam dan budayanya, Bali selalu menjadi pilihan utama wisatawan mancanegara dan wisatawan Nusantara.
Namun tahukah kamu, untuk memecah tingginya konsentrasi kunjungan wisatawan di Bali khususnya Bali bagian Selatan, Kementerian Pariwisata juga mengangkat daerah 3 B (Bali Utara, Bali Barat, dan Banyuwangi) yang menjadi pilihan menarik bagi wisatawan yang ingin tinggal lebih lama dan sekaligus meningkatkan nilai belanja mereka.
Khusus Banyuwangi, daerah ini sudah lama berbenah dari stigma lama dan menjadi primadona daerah wisata di bagian timur pulau Jawa.
Dengan slogan the Sunrise of Java, Banyuwangi menjelma menjadi destinasi dengan beragam atraksi yang sulit untuk diabaikan. Dari wisata alam hingga petualangan, Banyuwangi menawarkan pengalaman yang tak terlupakan.
Berikut 7 keistimewaan Banyuwangi sehingga julukan The Sunrise of Java disematkan pada wilayah dengan populasi 1.812.709 jiwa itu:
1. Kawah Ijen
Kawah Ijen merupakan destinasi wisata unggulan Jawa Timur, terletak di perbatasan Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi. Berada di ketinggian 2.368 mdpl dengan kaldera terluas di Pulau Jawa, Kawah Ijen juga memiliki keunikan yakni adanya blue fire atau api biru. Keindahan blue fire Kawah Ijen sudah terkenal hingga ke mancanegara.
Blue fire adalah fenomena alam yang diakibatkan oleh sublimasi gas belerang hingga mencapai suhu 200 derajat lebih memunculkan blue fire yang hanya ada dua di dunia. Setiap harinya pada waktu dini hari sekitar pukul 01.00 hingga 04.00, dapat terlihat fenomena blue fire yang menjadi keindahan bagi setiap orang yang memandangnya. Dari start point pendaki akan membutuhkan waktu pendakian sekitar 2-3 jam menuju kawah.
2. De Djawatan
Destinasi wisata De Djawatan Forest, Banyuwangi menyuguhkan pemandangan alam yang unik dan berbeda dari kebanyakan destinasi wisata pada umumnya. Kawasan ini dikelola Perum Perhutani dan sejak lama dikenal masyarakat sebagai hutan lindung. Nama De Djawatan sendiri dipilih sebagai pengingat kejayaan Perum Perhutani yang dulu bernama Djawatan Kehutanan.
De Djawatan yang berada di Desa Benculuk ini memiliki panorama alam berupa pohon-pohon trembesi yang rindang dengan batang pohon yang banyak ditumbuhi oleh lumut dan tumbuhan menjalar.
Ratusan pohon trembesi berusia 100-150 tahun yang menjulang gagah di area seluas 9 hektar. Pohon-pohon raksasa ini pula yang menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke De Djawatan Forest. Kamu pasti tergoda untuk mengabadikan momen di De Djawatan dan mengunggah di media sosial kamu deh.
3. Desa Wisata Tamansari
Desa Wisata Tamansari adalah sebuah Desa yang terletak di kawasan bagian barat kota Banyuwangi, tepatnya 24 KM dari Kota, kecamatan Licin. Desa Tamansari cukup dikenal sebagai Desa Wisata berbasis Smart Kampung sejak awal tahun 2016. Di Desa Tamansari, kamu bisa menikmati pemandangan alam yang memukau dan udara sejuk di kaki Gunung Ijen.
Desa Tamansari menawarkan pengalaman wisata yang autentik dengan homestay-homestay tradisional, perkebunan kopi, dan panorama alam yang memesona. Masyarakatnya yang ramah akan membuat Anda merasa seperti di rumah sendiri.
Desa Tamansari juga memiliki Sendang Seruni, yakni kolam air yang bersumber dari mata air pegunungan. Airnya segar dan bersih, disekitarnya ditanami selada air yang membuat kolam terasa lebih segar. Kolam air ini, dikelola oleh masyarakat sekitar dengan pemerintah desa sebagai pemodal dan pendukung.
4. Kopi Banyuwangi
Banyuwangi dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi di Indonesia. Di Banyuwangi terdapat beberapa Perkebunan kopi dan juga komunitas yang memiliki tradisi minum kopi yang khas di daerah Kemiren. Di desa ini masyarakat memiliki filsafat minum kopi “sekali seduh kita bersaudara”. Di desa Kemiren, pengunjung dipersilakan membuat kopinya sendiri mulai dari menyangrai, menumbuk dan menyaring biji kopi hingga praktek penyajian kopi yang benar.
Selain kopi Kemiren, ada beberapa jenis kopi lain khas Banyuwangi. Kopi khas Banyuwangi lainnya antara lain kopi lanang, kopi seblang, dan kopi pingit atau kopi lawas. Sayang jika kamu tidak membawa pulang kopi khas Banyuwangi ke rumah sebagai oleh-oleh.
5. Museum Blambangan
Museum Blambangan merupakan museum umum yang didirikan pada 25 Desember 1977. Museum ini diberi nama Blambangan karena konon dulu di wilayah ini merupakan wilayah bekas Kerajaan Blambangan yang cukup dikenal, pada waktu kejayaan Kerajaan Majapahit.
Pengembangan museum Blambangan mempunyai tujuan untuk melestarikan warisan budaya bangsa khususnya jenis peninggalan bersejarah yang menjadi milik masyarakat Kabupaten Banyuwangi. Di Museum Blambangan kamu bisa mengetahui perjalanan Sejarah Banyuwangi dan juga melihat replika atau peninggalan kereta kuda yang digunakan oleh Kerajaan Blambangan, simbol transportasi kerajaan zaman dahulu.
6. Tari Gandrung Banyuwangi
Tari Gandrung bermakna ungkapan rasa syukur masyarakat Banyuwangi setelah masa panen. Secara harfiah, istilah “gandrung” berarti terpesona, merujuk pada rasa kagum masyarakat terhadap Dewi Sri atau Dewi Padi yang dianggap membawa kemakmuran. Rasa syukur tersebut diwujudkan dalam bentuk hiburan dan kegembiraan melalui tarian.

Tari Gandrung dikenal dengan keindahan gerakannya yang khas, mengombinasikan tangan, kaki, dan bahu secara selaras sehingga tercipta tarian yang ekspresif sekaligus memikat.
Setiap tahun, masyarakat Banyuwangi menyelenggarakan sebuah agenda budaya yang selalu ditunggu-tunggu, yaitu Festival Gandrung Sewu. Acara ini digelar di Pantai Boom dengan panorama Selat Bali sebagai latarnya, menghadirkan bukan hanya kemegahan seni budaya, tetapi juga pesan tentang pentingnya menjaga harmoni antara manusia dan alam.
7. Pantai Blimbingsari
Pantai Blimbingsari merupakan salah satu keunggulan wisata di Banyuwangi yang terkenal dengan kuliner ikan bakarnya yang khas Banyuwangi. Terlebih dengan ditemani keindahan hamparan pasir pantai, suara deburan ombak, bakalan menjadi pengalaman tersendiri saat berkunjung kesana.
Pantai Blimbingsari yang berada di kecamatan Rogojampi, terletak sekitar 10 kilometer dari pusat kota Banyuwangi. Di Pantai ini ada banyak warung lesehan yang menjual ikan bakar dan makanan laut lainnya. Ikan yang dicari wisatawan biasanya ikan kerapu, kakap merah putihan, atau tambak moncong.
Menyantap ikan bakar setelah menikmati matahari terbit di Pantai Blimbingsari benar-benar meneguhkan slogan Banyuwangi sebagai the Sunrise of Java. (*)












