Lumajang, – Naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamina Dex berdampak langsung terhadap sektor pertambangan pasir di Kabupaten Lumajang.
Pengusaha pasir terpaksa menaikkan harga jual karena operasional alat berat tambang menggunakan BBM nonsubsidi tersebut.
Salah satu sopir truk pasir, Iwan, mengatakan harga pasir saat ini mencapai Rp650 ribu per truk. Harga tersebut naik sekitar Rp200 ribu dibanding sebelumnya yang hanya Rp450 ribu per truk.
Menurut dia, kenaikan harga pasir bukan berasal dari biaya operasional angkutan. Sebab, armada truk pasir masih menggunakan solar subsidi atau biosolar yang harganya belum mengalami kenaikan.
“Kalau operasional truk tidak ada kendala. Kalau alat berat kan harus pakai Dex, tidak boleh pakai biosolar. Jadi harga pasir naik,” kata Iwan, Kamis (7/5/2026).
Untuk menyiasati kenaikan harga tersebut, Iwan mengaku membeli pasir lebih banyak dari penambang. Kelebihan muatan itu kemudian diturunkan di rumah untuk ditimbun dan dijual kembali di kemudian hari.
“Satu truk itu isinya tujuh kubik, biasanya saya beli delapan sampai sembilan kubik. Nanti yang satu setengah atau dua kubik kami turunkan di rumah. Itu tabungan supaya tetap bisa makan,” ujarnya.
Pengusaha stockpile pasir di Kecamatan Pasirian, Antok mengatakan, kenaikan harga Pertamina Dex membuat pelaku usaha semakin kesulitan. Namun, dia mengaku tidak berani menaikkan harga terlalu tinggi karena permintaan pasir saat ini sedang lesu.
“Kenaikan mulai terasa sejak 18 April 2026. Harga solar nonsubsidi naik membuat kerja makin bingung,” kata Antok.
Dia menyebut hanya menaikkan harga pasir sekitar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per truk agar pelanggan tidak beralih ke daerah lain.
Dampak kenaikan harga pasir juga dirasakan pelaku usaha konstruksi. Kontraktor asal Lumajang, Achmad Ardiansyah mengatakan, dirinya terpaksa menaikkan harga batako dan paving sebesar Rp200 per biji.
Kenaikan itu dipicu harga pasir kualitas super yang naik dari Rp900 ribu menjadi Rp1,1 juta.
“Kadang ada pasir yang naiknya tidak signifikan, tapi kualitasnya campuran. Jadi kami ambil yang paling bagus supaya kualitas produksi tetap baik,” ujarnya.
Meski belum mengalami kerugian, Ardian mengaku margin keuntungan usahanya mulai tergerus akibat kenaikan harga bahan baku tersebut.
“Kalau sampai rugi belum, tapi keuntungan pasti berkurang,” katanya. (*)













