SUMBERASIH-PANTURA7.com, Talenan kayu atau alas papan untuk mengiris sayur mayur dan lauk-pauk bagi sebagian orang tentu barang biasa. Namun ditangan kakak-beradik, Leda Azzadinas Haque (26) dan Ledy Fitra Ramadhani (22), perabot dapur itu menjadi karya seni bernilai tinggi.

Berkat kreatifitas dua dara asal Dusun Lori, Desa Sumurmati, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo ini, talenan menjadi lukisan kayu cantik dan flower box untuk keperluan souvenir dan cinderamata.

Leda bercerita awal mula ide membuat talenan lukis itu tumbuh. Saat itu, sekitar tahun 2017, Leda melihat banyak talenan tak terpakai di sekitar dapur pondok Pesantren Putri Gontor di Ngawi, tempat dimana ia sekolah sekaligus nyantri.

“Saat itu terbersit ide bagaimana menjadikan talenan kayu sebagai media lukis. Tentu akan mempunyai nilai jual jika dibandingkan tak terpakai di dapur,” ujar Leda.

Namun, kesibukan membuat Leda hanya mampu membuat satu karya talenan. Pada Februari 2020, pandemi Covid-19 memaksa Leda pulang kampung setelah mengajar di Banten.

“Nah selama pandemi kan sering di rumah. Kebetulan adik (Ledy, red) juga di rumah, pulang dari kuliah di Surabaya. Saat itulah, terpikir lagi untuk membuat talenan lukis,” papar wanita berhijab ini.

KREATIF : Leda dan Ledy nampak serius saat membuat lukisan diatas talenan kayu. (foto : Arifandhie for P7.com)

Alhasil, sejak sejak Juni 2020, kakak-beradik ini menekuni talenan lukis. Kebetulan darah seni mengalir dari sang ayah, Ismam, yang dulunya seorang pelukis. Sementara sang ibu, Rahayu Listiani, sigap memberikan dukungan moril.

Namun tak mudah untuk merubah talenan menjadi karya lukis. Kayu yang berpori halus, membuat cat mudah menyerap jika tak dilumuri warna dasar. “Biasanya saya pakai warna dasar putih,” jelas Leda.

Kesulitan lain, ada pada bahan baku. Leda biasanya membeli talenan jadi dari perajin atau membeli kayu pinus sisa pabrik. “Ya, kayu pinusnya mulai sulit dicari sekarang,” ujar sarjana farmasi ini.

Baca Juga  Dampak Covid-19 Terhadap Pendidikan

Meski sama-sama mahir melukis, namun Leda dan Ledy punya karakter lukis yang berbeda. “Saya realis abstrak, kalau adik cenderung ke kartun. Untuk jenis cat, kami menggunakan cat akrilik,” tandas Leda.

LARIS MANIS : Leda dan Ledy menghasilkan talenan lukis beda karakter, namun sama-sama diburu pembeli. (foto : Arifandhie for P7.com)

Jika Leda banyak berperan dalam konsep dan produksi, maka Ledy lihai dalam pemasaran. Dalam sehari, dua bersaudara ini bisa membuat sedikitnya 12 talenan lukis, yang mayoritas dipasarkan melalui media sosial Instagram (IG).

“Respon masyarakat cukup baik, mayoritas pembelinya via online. Yang banyak dari Jawa Barat, Balikpapan dan Riau, itu yang terjauh,” ujar Ledy.

Talenan lukis karya dua bersaudara ini, dibanderol Rp 50 -60 ribu per keping. Jika lukis custom, harganya mulai Rp 70 ribu, tergantung tingkat kesulitan. “Omset kami Rp 5 juta per bulan,” tutur Ledy. (*)


Editor : Efendi Muhamad

Publisher : A. Zainullah FT