Probolinggo – Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris atau Gus Haris melakukan monitoring dan evaluasi (monev) di Jembatan Curah Bubur, ruas Jalan Paras–Klenang Kidul, Kecamatan Tegalsiwalan, Sabtu (22/8/26) siang.
Bupati Probolinggo, Mohammad Haris ata Gus Haris mengatakan perbaikan infrastruktur jembatan dilakukan sesuai kewenangan pemerintah daerah.
Jembatan yang menjadi kewenangan provinsi maupun pusat akan diusulkan kepada pemerintah terkait, sesuai kewenangan masing-masing.
“Untuk jembatan-jembatan yang porsinya provinsi, nasional, pusat dan sebagainya, kita usulkan sesuai dengan porsinya masing-masing, sedangkan jembatan, ini kewenangan kewenangan Kabupaten,” ujarnya.
Gus Haris menyebut, bahwa perbaikan Jembatan Curah Bubur merupakan bentuk dari upaya mitigasi Pemkab agar kerusakan tak melebar menjadi persoalan lebih besar kelak.
Selain itu Gus Haris juga menyoroti penerangan jalan dan persoalan sampah di sekitar jembatan. Ia mengajak masyarakat, terutama generasi muda, menjaga kebersihan lingkungan.
“Saya ingin mengajak kepada anak-anak muda terutama yang memang punya rasa empati terhadap keadaan alam kita. Di bawah jembatan itu banyak sekali sampah-sampah,” tegasnya.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUPR) Kabupaten Probolinggo Hengki Cahyo Saputra mengatakan, bahwa kunjungan Bupati beserta sejumlah kepala OPD Pemkab Proboliggo ini untuk memastikan kesiapan pelaksaan pengerjaan Jembatan Curah Cubur, termasuk akses masyarakat agar tetap bisa beraktivitas.
“Jadi perbaikan total jembatan ini merupakan kegiatan yang tertunda di tahun ssbelumnya, dan kemarin sudah dilakukan uji publik,” terang Hengki.
Rehabilitasi jembatan total ini akan mencakup pelebaran jembatan dari sekitar 3 meter menjadi 5,5 meter.
Dengan pelebaran tersebut, kendaraan roda empat nantinya dapat bersimpangan, berbeda dengan kondisi saat ini yang hanya memungkinkan satu kendaraan melintas secara bergantian.
Selain itu, elevasi jalan dan jembatan akan ditingkatkan agar lebih baik dan tidak terlalu rendah dibandingkan jalan di sisi timur. Kendaraan bertonase besar, seperti truk pengangkut kayu dan tebu, nantinya kemungkinan harus menggunakan jalur alternatif.
“Harapannya, rehabilitasi jembatan ini dapat dilakukan berkelanjutan setiap tahunnya, mengingat banyak jembatan di Kabupaten Probolinggo yang usianya sudah tua,” imbuh Hengki. (*)












