Jember,- Sebanyak tujuh kejadian temperan atau kecelakaan terjadi di perlintasan sebidang wilayah kerja KAI Daop 9 Jember sepanjang Januari hingga Oktober 2026.
Sebagai langkah pencegahan, KAI Daop 9 menambah 120 petugas jaga perlintasan (PJL) ekstra di 61 titik mulai 5 Oktober hingga 31 Desember 2026.
Penambahan petugas tersebut tersebar di lima wilayah, yakni Kota Pasuruan, Kota Probolinggo, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Jember, dan Kabupaten Banyuwangi.
Kabupaten Jember mendapat jumlah personel terbanyak, yakni 53 PJL ekstra yang ditempatkan di 26 titik perlintasan.
Selanjutnya Banyuwangi 29 petugas di 14 titik, Kota Probolinggo 15 petugas di tujuh titik, Kota Pasuruan 12 petugas di tujuh titik, dan Lumajang 11 petugas di tujuh titik.
Manager Hukum dan Humas KAI Daop 9 Jember Cahyo Widiantoro mengatakan, penambahan personel dilakukan untuk memperkuat pengawasan, terutama pada jam-jam rawan dan perlintasan yang belum memiliki petugas maupun palang pintu.
“Kami tidak ingin keselamatan baru menjadi perhatian setelah terjadi kecelakaan. Karena itu, langkah preventif terus kami lakukan, salah satunya dengan menambah 120 PJL ekstra di 61 titik yang tersebar di lima wilayah,” ucap Cahyo, Senin (5/10/26).
Data KAI Daop 9 mencatat, sepanjang 2025 terdapat 15 kejadian temperan atau kecelakaan di perlintasan sebidang. Sementara hingga Oktober 2026 tercatat tujuh kejadian.
Menurut Cahyo, keselamatan di perlintasan sebidang tidak hanya menjadi tanggung jawab KAI. Pengamanan juga membutuhkan dukungan pemerintah daerah, kepolisian, dinas perhubungan, pengelola jalan, dan masyarakat.
“Keselamatan perlintasan adalah tanggung jawab bersama. KAI dapat memperkuat penjagaan melalui PJL, tetapi dukungan pemerintah daerah, kepolisian, dinas perhubungan, serta seluruh stakeholder sangat diperlukan,” katanya.
KAI mengingatkan pengguna jalan agar tidak menerobos palang pintu dan tidak memaksakan diri melintas saat kereta api akan datang.
Pada perlintasan tanpa palang maupun petugas, pengguna jalan diminta berhenti, melihat ke kanan dan kiri, serta memastikan jalur benar-benar aman sebelum melintas.
“Jangan mempertaruhkan keselamatan hanya demi beberapa detik. Berhenti sejenak, lihat, dengarkan, pastikan aman, kemudian baru melintas,” pungkas Cahyo. (*)












