Probolinggo,— Perhelatan Pesta Rakyat Kraksaan (PARAKSA) di halaman Stadion Gelora Merdeka, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, yang berlangsung Sabtu malam (3/10/26), menuai kecaman keras dari sejumlah tokoh agama.

Pasalnya, even tersebut diwarnai oleh penampilan disjoki wanita atau Female DJ (FDJ) berbusana seksi dengan dandanan menor di atas panggung yang disaksikan langsung oleh khalayak umum.

Pernyataan keprihatinan yang mendalam ini pertama kali disuarakan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Badridduja Kraksaan, KH Tauhidullah Badri.

“Acara pesta rakyat di Gelora Merdeka Kraksaan tadi malam minggu ramai sekali, ingat kok ada musik DJ, banyak pemuda yang mabuk-mabukan. Sementara di-stop dulu musik, katanya kota santri,” kecam Kiai Tauhid melalui pesan singkat WhatsApp (WA), Minggu (4/10/26).

Penampilan DJ seksi, dijelaskan Kiai Tauhid, mencederai nilai-nilai kearifan lokal. Ia juga mengaku telah berkoordinasi secara intensif dengan sejumlah pengasuh pondok pesantren di Probolinggo untuk menyatakan sikap tegas dan menyayangkan hiburan tersebut.

Koordinasi Tokoh Agama

Kiai Tauhid menyebut, setidaknya ia telah berkoordinasi dengan dua ulama terkemuka untuk membahasa fenomena itu.

Dua ulama itu adalah KH Hasan Syadzili, Pengasuh Ponpes Zainul Anwar Alassumur Kulon Kraksaan dan KHR. Masrur Rhobitullah As’ad, Pengasuh Ponpes Nurul Qadim Kalikajar Paiton.

Ketiganya berharap agar insiden serupa tidak terulang kembali di masa mendatang. Mereka secara kolektif mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo, jajaran aparat kepolisian, serta pihak penyelenggara agar lebih selektif, dan proaktif dalam menyaring jenis hiburan publik yang dihadirkan.

“Hendaknya ke depan berupaya mencegah diselenggarakannya acara yang bermuatan maksiat dan berpotensi munculnya mabuk-mabukan, perjudian, perzinahan, berbagai tindakan kriminal, dan berbagai perilaku negatif lainnya,” tandas kiai Tauhid.

Desak Pemberantasan Miras 

Lebih lanjut, Kiai Tauhid menekankan pentingnya menjaga stabilitas dan kondusivitas daerah demi mempertahankan citra Probolinggo, khususnya wilayah Kraksaan, sebagai kawasan yang aman, damai, dan religius sesuai cita-cita luhur bangsa.

“Demi menjaga Kota Kraksaan khususnya, dan Probolinggo serta bangsa Indonesia tetap kondusif, damai, dan menjadi ‘Baldatun thayyibatun wa rabbun ghofur’,” beber Kiai Tauhid.

Sebagai langkah preventif jangka panjang, para kiai juga mendesak aparat penegak hukum dan instansi berwenang agar membongkar serta menangani peredaran minuman keras (miras) secara serius dan tuntas hingga ke akar-akarnya.

“Langkah ini mendesak guna melindungi moral generasi muda dari ancaman kriminalitas dan dekadensi moral,” ia memungkasi. (*)


Editor: Elha Hidayat

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.