Lumajang,- Antrean panjang kendaraan untuk pengisian bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite kembali terjadi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Bagusari, Kecamatan Lumajang, Kabupaten Lumajang, Kamis (11/6/26) pagi.
Sejumlah warga menduga kondisi tersebut dipicu kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax 92 yang mulai berlaku pada hari yang sama.
Pantauan di lokasi, puluhan sepeda motor mengantre hingga ke tepi jalan raya. Pihak SPBU telah membagi antrean menjadi dua jalur untuk mengurangi kepadatan, namun antrean tetap terlihat panjang pada jam-jam tertentu.
Salah seorang warga yang mengantre, Imam Subiono, mengaku harus menunggu sekitar 15 hingga 20 menit untuk mendapatkan Pertalite. Menurutnya, antrean kali ini lebih panjang dibandingkan biasanya.
“Antre lama tadi, paling ini gara-gara Pertamax naik jadi banyak yang pindah,” kata Imam.
Sekedar diketahui, harga Pertamax 92 diketahui naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter. Kenaikan memunculkan dugaan bahwa sebagian pengguna BBM non-subsidi mulai beralih ke Pertalite yang harganya lebih murah.
Namun, Pengawas SPBU Bagusari, Yudha, menilai belum ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan bahwa antrean panjang tersebut disebabkan oleh kenaikan harga Pertamax.
Menurut dia, antrean pengisian Pertalite sudah terjadi sejak beberapa waktu lalu. “Jauh sebelum adanya kenaikan harga BBM Pertamax sudah seperti ini,” tandas Yudha.
Ia menjelaskan, kepadatan antrean Pertalite di SPBU Bagusari mulai terlihat sejak setelah Lebaran Idul Fitri.
Oleh karena itu, kondisi yang terjadi saat ini belum tentu berkaitan langsung dengan kebijakan penyesuaian harga BBM non-subsidi.
Yudha menambahkan, dampak kenaikan harga Pertamax terhadap pola konsumsi masyarakat masih belum terlihat.
Ia mengklaim, kebijakan tersebut baru diberlakukan sehingga membutuhkan waktu untuk mengetahui apakah akan terjadi perubahan perilaku konsumen.
“Kalau dampak belum kelihatan, karena belum ada sehari. Sampai saat ini juga belum ada yang protes dari konsumen,” beber dia.
Ia mengatakan Pertamina sebelumnya telah melakukan sosialisasi terkait penyesuaian harga BBM melalui berbagai saluran informasi.
Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat mengetahui perubahan harga dan tidak terkejut saat melakukan pengisian bahan bakar.
Menurut Yudha, hingga saat ini belum terlihat peningkatan signifikan jumlah konsumen Pertamax yang beralih ke Pertalite.
Khususnya untuk kendaraan roda empat, penggunaan BBM subsidi masih dibatasi melalui sistem barcode yang telah diterapkan pemerintah.
“Sejauh ini juga tidak ada perubahan konsumen dari Pertamax ke Pertalite yang menonjol. Khususnya pengendara roda empat, karena untuk mobil harus pakai barcode kalau mau isi BBM subsidi,” pungkasnya. (*)












