Pasuruan,- Taman Safari Indonesia (TSI) Prigen kembali berhasil mengembangbiakkan satwa endemik yang dilindungi.
Sebanyak empat ekor anak Harimau Sumatera lahir dari pasangan indukan bernama Dini dan Praja.
Kelahiran empat anak harimau sekaligus dalam satu masa kehamilan ini terbilang di atas rata-rata.
Dengan lahirnya empat anggota baru ini, total populasi Harimau Sumatera di TSI Prigen kini menjadi delapan ekor. Jumlah tersebut terdiri dari sepasang indukan, dua anakan yang telah menginjak usia lima tahun, serta empat ekor anak yang baru lahir.
Sementara untuk lingkup Taman Safari Group, total populasi satwa loreng ini secara keseluruhan mencapai 24 ekor.
Dokter Hewan TSI Prigen, drh. Bongot Huaso Mulia Radjagoekgoek menegaskan bahwa program penangkaran (breeding) ini murni ditujukan untuk misi konservasi lingkungan demi menjaga keberlanjutan spesies, bukan sebagai komoditas hiburan bagi pengunjung.
Karena alasan tersebut, pihak manajemen memastikan tidak ada aktivitas interaksi komersial seperti sesi foto bersama anakan harimau yang baru lahir tersebut.
“Peran daripada Harimau Sumatera di TSI Prigen bukan untuk pengunjung. Jadi diutamakan adalah untuk meningkatkan populasi secara regional dan secara global, tidak untuk commercial purposes,” ujar drh. Bongot, Rabu (3/6/26).
Pihak TSI Prigen menerapkan metode perawatan alami (natural care) dengan membiarkan induk merawat sendiri anak-anaknya secara mandiri.
Langkah ini krusial untuk melatih serta mempertahankan insting keibuan sang induk agar tetap berjalan baik pada kelahiran-kelahiran selanjutnya.
Secara biologis, mengembangbiakkan Harimau Sumatera memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Satwa ini dikenal sangat selektif dalam memilih pasangan.
Proses penggabungan antara jantan dan betina pun menyimpan risiko tinggi yang harus diantisipasi oleh tim pengelola.
“Harimau Sumatera termasuk pada spesies yang sulit untuk breeding. Mereka selektif kepada pasangannya. Pada saat penggabungan juga ada risiko injury (cedera), risiko trauma, hingga risiko kematian. Kelahiran empat ekor ini sendiri di atas rata-rata, karena biasanya rata-rata lahir dua ekor,” jelasnya.
Lebih lanjut, Bongot memaparkan ada empat faktor penentu utama di balik keberhasilan penangkaran ini. Faktor pertama adalah kecakapan dan pengalaman para perawat satwa (keeper) dalam mendeteksi masa subur harimau betina secara akurat, sehingga meminimalkan perilaku agresif saat harimau jantan dimasukkan ke kandang penggabungan.
Faktor kedua yaitu pemahaman perawat terhadap indikator keberhasilan perkawinan melalui perilaku spesifik satwa, seperti suara teriakan dan gerakan berguling.
Ketiga, keterlibatan tim medis dalam memberikan suplementasi serta pemantauan klinis melalui pemeriksaan USG.
Faktor terakhir yang tidak kalah penting adalah kesiapan tim kuratorial dalam memfasilitasi kandang persalinan yang memadai.
Kandang harus dipastikan aman dari potensi predator, steril dari aroma harimau lain, serta terisolasi dari gangguan eksternal.
“Perawat satwa dituntut mengetahui kapan betinanya subur dan mau menerima jantan, nah itu krusial. Selain itu, tim kuratorial juga mempersiapkan kandang persalinan yang nyaman, tidak terganggu, dan tidak adanya aktivitas-aktivitas yang tidak biasa,” beber dia. (*)












