Pasuruan,- Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU bersama Satuan Anti Kekerasan Anak (SAKA) PBNU meluncurkan Gerakan Nasional ‘Pesantrenku Aman’ di Pondok Pesantren Al Yasini, Kabupaten Pasuruan, Selasa (2/6/26) siang.

Kegiatan yang diikuti sekitar 1.000 peserta dari kalangan pengasuh, pengurus, dewan guru, musyrif, musyrifah hingga santri itu menjadi bagian dari upaya PBNU memperkuat tata kelola pesantren yang aman dan ramah anak.

Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf mengatakan, gerakan tersebut merupakan kelanjutan dari kerja panjang Satgas Anti Kekerasan Anak yang dibentuk PBNU sejak tahun 2023.

“Ini bagian dari rangkaian kerja yang sebetulnya non-stop, maraton, sejak lebih dari dua tahun lalu. Satgas Anti Kekerasan ini dibentuk oleh PBNU pada tahun 2023 dan terus bekerja membangun desain pengembangan pesantren yang lebih baik, melakukan pelatihan, menggalang gerakan, serta membentuk satgas-satgas di pesantren,” ujar Gus Yahya di sela kegiatan.

Menurut Gus Yahya, deklarasi Pesantrenku Aman bertujuan membangun kesadaran seluruh pesantren agar semakin serius menjamin keamanan dan perlindungan anak selama menjalani pendidikan di lingkungan pesantren.

“Hari ini diberi judul Deklarasi Pesantrenku Aman. Pengertiannya adalah membangkitkan kesadaran pesantren-pesantren untuk mengupayakan secara lebih sungguh-sungguh agar pesantren betul-betul aman bagi anak-anak dan melaksanakan tanggung jawabnya dalam mendidik anak-anak yang dititipkan di pesantren,” bebernya.

Ia menilai pengawasan terhadap puluhan ribu pesantren tidak lagi memungkinkan dilakukan dengan pola manual. Karena itu, PBNU mulai mengembangkan sistem digital sebagai sarana pengelolaan dan pemantauan pesantren secara terintegrasi.

Berdasarkan data Kementerian Agama, lebih dari 28 ribu pesantren yang ada di Indonesia berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama dari total sekitar 42 ribu pesantren yang tersebar di berbagai daerah.

“Karena sekarang kita sudah mewarisi puluhan ribu pesantren, tidak mungkin menggunakan pendekatan manual seperti selama ini. Itulah sebabnya PBNU menginisiasi pembangunan platform digital sebagai basis manajemen pengelolaan bersama pesantren-pesantren yang ada,” jelasnya.

Menurut Gus Yahya, PBNU saat ini telah memiliki basis data besar atau big data pesantren yang terus dikembangkan untuk menghubungkan pesantren-pesantren dalam satu sistem manajemen bersama.

“Kita sekarang sudah punya big data pesantren yang nanti akan menyambungkan satu pesantren dengan pesantren yang lain. Sudah banyak yang bergabung, meskipun belum semuanya dan masih terus kita kembangkan,” ujarnya.

Selain digitalisasi, PBNU juga tengah menyusun berbagai standar pengelolaan pesantren, mulai dari aspek infrastruktur, kurikulum, metode pengasuhan, pola kegiatan santri hingga pengembangan sumber daya pendukung.

“Kemudian juga kita membuat desain standar sistem. Mulai dari sistem infrastrukturnya, model kurikulumnya, model metode pengasuhannya, model pola kegiatan santrinya, hingga pengembangan sumber daya pendukung seperti circular economy di pesantren dan sebagainya,” tutur Gus Yahya.

Gerakan Nasional Pesantrenku Aman tidak hanya ditandai dengan pembacaan deklarasi, tetapi juga diisi berbagai kegiatan edukatif.

Diantaranya pelatihan kesehatan reproduksi dan perlindungan diri bagi santri putri, literasi digital bagi santri putra, pelatihan penyusunan standar operasional prosedur penanganan korban kekerasan bagi pengasuh asrama, serta halaqah pengasuh pesantren se-Pasuruan.

Rangkaian kegiatan yang berlangsung sejak 1 hingga 2 Juni 2026 itu ditutup dengan pembacaan deklarasi dan doa bersama.

Setelah diluncurkan di Pasuruan, Gerakan Nasional Pesantrenku Aman akan dilanjutkan ke berbagai daerah lain di Indonesia sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan pesantren yang aman, sehat, nyaman dan ramah anak. (*)

Editor: Mohammad S

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.