Lumajang, – Di lereng Gunung Semeru, tepatnya di Kecamatan Senduro dan Pasrujambe, Kabupaten Lumajang, peternakan kambing bukan sekadar aktivitas ekonomi turun-temurun.

Ia tumbuh sebagai bagian dari sistem kehidupan yang menyatu dengan alam. Dari lanskap perbukitan, vegetasi pakan ternak, hingga pola pemeliharaan tradisional, seluruhnya membentuk satu ekosistem yang kini mendapat pengakuan melalui Indikasi Geografis (IG) Susu Kambing Senduro.

Pengakuan ini menempatkan produk susu kambing tersebut bukan hanya sebagai komoditas unggulan daerah, pengakuan tersebut sebagai simbol pembangunan yang bertumpu pada keberlanjutan lingkungan dan kekuatan ekonomi desa.

Bupati Lumajang Indah Amperawati mengatakan, capaian tersebut lahir dari proses panjang penguatan ekonomi berbasis masyarakat desa.

“Keberhasilan memperoleh status Indikasi Geografis menunjukkan kekuatan nyata ekonomi yang dibangun dari desa, oleh masyarakat dan untuk kesejahteraan bersama,” kata Indah, Minggu (19/4/2026).

Ia menambahkan, produk dari Senduro dan Pasrujambe telah melampaui sekadar komoditas peternakan.

“Dari desa, dari peternak, lahir produk yang memiliki nilai dan diakui,” ujarnya.

Di samping itu, kata sia, Susu Kambing Senduro sangat bergantung pada kondisi lingkungan sekitar. Kualitas susu ditentukan oleh ketersediaan pakan alami, iklim perbukitan, serta keseimbangan ekosistem yang masih relatif terjaga.

Artinya, nilai ekonomi susu kambing tidak dapat dipisahkan dari kondisi lingkungan Senduro dan Pasrujambe sebagai ruang ekologis yang membentuk karakter produk tersebut.

“Pemkab Lumajang menilai bahwa penguatan ekonomi berbasis komunitas menjadi strategi penting dalam menjaga ketahanan ekonomi daerah. Ketika ekonomi tumbuh dari desa, maka distribusi manfaatnya menjadi lebih merata dan langsung dirasakan masyarakat,” kata Indah.

Untuk diketahui, susu kambing Senduro memiliki keunggulan alami, mulai dari kandungan gizi yang tinggi hingga karakteristik rasa dan kualitas yang khas. Keunggulan tersebut tidak dapat dipisahkan dari kondisi geografis wilayah penghasilnya.

Faktor alam seperti ketinggian wilayah, jenis vegetasi pakan, dan iklim mikro menjadi elemen penting yang membentuk kualitas produk.

Sementara itu, salah satu peternak di Senduro, Dandi (48) mengatakan, perubahan kualitas lingkungan akan langsung berdampak pada hasil produksi.

“Kalau rumput berkurang atau cuaca ekstrem, susu juga bisa turun. Jadi kami memang sangat bergantung pada alam,” katanya.

Menurut dia, praktik beternak di wilayah tersebut masih sangat bergantung pada pola alami yang diwariskan turun-temurun.

“Kami tidak bisa lepas dari alam. Kalau alamnya rusak, otomatis ternak juga tidak sehat,” katanya. (*)

Editor: Ikhsan Mahmudi

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.