PROBOLINGGO-PANTURA7.com, Meroketnya harga cabai rawit di sejumlah daerah juga terjadi di Kota Probolinggo. Imbasnya, konsumen terutama pelaku usaha makanan mengeluh karena mahalnya harga cabai membuat pengasilan menyusut.

Seperti yang disampaikan Mince (35) pemilik warung lalapan di area Museum Kota Probolinggo. Ia menjelaskan, kenaikan harga cabai yang mencapai Rp 60 ribu per kilogram sangat membebani. Padahal sebelumnya, harganya hanya kisaran Rp 15 ribu per kilogram.

“Sudah dua mingguan ini naik terus, harganya di pasar sekarang Rp. 60 ribu. Meski mahal tapi cabainya gak semua merah, campur dengan cabai hijau, rasanya juga tidak terlalu pedas,” ujar Mince, Sabtu (13/7/2019).

Akibat mahalnya harga cabai rawit, menurut Mince, penghasilannya berkurang drastis, bahkan kadang-kadang jual rugi. Sebab, laba jualan kini tersedot untuk membeli cabai yang anggarannya membengkak.

“Dulu dengan uang Rp 30 ribu, saya dapat cabai 2 kilogram. Sekarang punya uang Rp 50 ribu, beli 1 kilogram saja gak dapet. Kalau sudah begini ya soyo (kerja bakti, red),” keluh dia.

Mince melanjutkan, soyo terjadi lantaran ia berjualan tanpa hasil. Jika nenaikkan harga lalapan yang dijual, Mince takut para pelanggan kabur. “Ya akhirnya harga nasi tetap, resikonya saya gak dapat hasil,” imbuhnya.

Dalam satu porsi, lalapan dijual Mince seharga Rp 10 ribu. Sedikitnya, 70 orang tiap hari makan di warung lalapan Mince yang terkenal berkat sambal pedasnya yang khas.

“Ya mudah-mudahan harga cabai kembali turun. Ini harga tomat dan cabai merah keriting kayaknya juga naik, kalau naik semua saya bisa tutup,” ia mengeluhkan. (*)

 

Penulis : Moh. Rochim
Editor : Efendi Muhammad

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here