Lumajang,- Harga oli dan ban sepeda motor di sejumlah toko otomotif Kabupaten Lumajang merangkak naik sejak pertengahan Mei 2026.
Kenaikan yang mencapai Rp 50 ribu per item untuk beberapa produk membuat pelanggan mulai beralih ke merek yang lebih murah.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat disebut-sebut mulai berdampak pada sektor otomotif di daerah.
Sejumlah produk perawatan kendaraan mengalami penyesuaian harga dari pemasok, terutama pelumas dan ban sepeda motor.
Di Toko Zico Jaya, Jalan Moh Yamin, Lumajang, kenaikan harga terjadi pada beberapa merek oli yang menjadi favorit konsumen.
Kasir Toko Zico Jaya, Ardi, mengatakan lonjakan harga mulai terasa sejak pertengahan Mei lalu. “Naiknya harga oli dan ban luar sepeda motor, naiknya gila-gilaan,” kata Ardi, Minggu (7/6/2026).
Menurut dia, kenaikan paling tinggi terjadi pada oli AHM MPX Matic. Harga produk tersebut naik dari Rp 62 ribu menjadi Rp 90 ribu per botol. Sementara oli Federal yang sebelumnya dijual Rp 55 ribu kini menjadi Rp 65 ribu.
“Kalau Federal kenaikannya tidak terlalu signifikan, paling naik sekitar Rp 10 ribu,” katanya.
Kenaikan juga terjadi pada oli Deltalube ukuran 800 mililiter yang sebelumnya dijual Rp 100 ribu menjadi Rp 115 ribu. Adapun oli Castrol Matic hingga saat ini masih dijual dengan harga lama.
Selain pelumas, kenaikan tajam juga terjadi pada ban luar sepeda motor. Ardi mengatakan harga ban luar yang sebelumnya berada di kisaran Rp 275 ribu kini telah menembus Rp 300 ribu hingga Rp 325 ribu per unit.
“Sekarang sudah hampir tidak ada ban luar yang harganya di bawah Rp 300 ribu. Kalau ban dalam naiknya tidak terlalu besar, sekitar Rp 3 ribu sampai Rp 5 ribu,” jelasnya.
Ardi mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab kenaikan harga tersebut. Menurut dia, toko hanya menyesuaikan harga yang ditetapkan pemasok karena seluruh pasokan barang berasal dari distributor.
Ia menilai, perubahan harga mulai memengaruhi perilaku konsumen. Sejumlah pelanggan yang sebelumnya menggunakan oli AHM kini beralih ke merek lain yang dinilai lebih terjangkau.
“Banyak yang biasanya pakai AHM beralih ke Federal karena harganya lebih murah. Soalnya kenaikan AHM memang paling tinggi,” tutur dia.
Meski demikian, hingga kini belum terlihat penurunan penjualan signifikan. Menurut Ardi, dampak terhadap omzet baru bisa diketahui setelah dilakukan rekapitulasi penjualan bulanan.
“Sementara masih relatif stabil. Cuma banyak pelanggan yang mengeluh karena harga oli sekarang lebih mahal,” sampainya.
Salah satu konsumen, Fathur, mengaku terkejut saat mengetahui harga oli yang biasa dibelinya naik cukup tajam. Driver ojek online itu bahkan terpaksa menunda penggantian oli karena uang yang dibawanya tidak mencukupi.
“Biasa pakai AHM harganya sekitar Rp 65 ribuan. Pas sampai ternyata sudah Rp 90 ribu. Saya akhirnya pulang dulu ambil uang tambahan,” keluhnya. (*)












