Probolinggo,— Perhelatan Pesta Rakyat Kraksaan (PARAKSA) 2026 yang digelar di halaman Stadion Gelora Merdeka, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, menuai gelombang protes keras dari para tokoh agama setempat.

Acara publik yang berlangsung meriah hingga penutupannya pada akhir pekan lalu tersebut dinilai mencederai marwah daerah yang dikenal sebagai basis santri.

Kritik tajam ini bermula dari kehadiran panggung hiburan musik yang menampilkan disjoki wanita (Female DJ/FDJ) berbusana ketat di atas panggung utama, yang disaksikan langsung oleh khalayak umum dari berbagai kalangan usia.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Probolinggo, KH Abdul Wasik Hannan, secara terbuka melayangkan kritik mendalam terhadap konsep acara tersebut.

Menurutnya, Pesta Rakyat Kraksaan yang dihelat sejak 24 September 2026 itu semestinya menjadi ruang kegembiraan rakyat yang tetap berpijak pada jati diri Kraksaan sebagai kota santri.

“Namun ketika gelaran hiburan itu ditutup, justru diisi dengan panggung musik DJ yang menghadirkan suasana yang tidak selaras dengan karakter religius masyarakatnya. Patut kiranya kita bertanya: ke mana arah wajah kota ini sedang dibawa?” ujar Kiai Wasik dalam pernyataan tertulisnya, Minggu (4/10/26).

Ia menegaskan bahwa kritik tersebut bukan ditujukan untuk melarang masyarakat bersenang-senang. “Melainkan bentuk pengingat agar hiburan publik tidak kehilangan adab, batas, dan arah kearifan lokal,” ucapnya.

Diwarnai Kericuhan dan Pemukulan 

Kemeriahan acara ternyata juga menyisakan catatan kelam berupa insiden kekerasan di sekitar area stadion. Sejumlah warga menjadi korban pemukulan, salah satunya dialami Zaini.

Zaini mengungkapkan, dirinya sempat berkeliling di sisi timur belakang panggung dan mendapati sekelompok pemuda tengah menenggak minuman keras (miras).

Ia kemudian berinisiatif menegur para pemuda tersebut agar tidak membuat keributan di ruang publik. Namun malang justru ia dapat saat melerai para pemuda yang telah terlibat keributan.

“Saya bilang jangan mabuk di sini, kemudian saya dipukul di bagian punggung oleh salah satu dari mereka. Saya cuma menegur supaya botolnya dipindah dan tidak mabuk-mabukan di sekitar lokasi acara,” ujar Zaini melalui pesan pribadi WhatsApp (WA).

Respons Pemkab Probolinggo

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan dan Perindustrian (DKUPP), berjanji akan mengevaluasi kegiatan serupa di masa akan datang.

“Siap, untuk selanjutnya akan menjadi evaluasi bersama,” ujar Kepala DKUPP Kabupaten Probolinggo, Sugeng Widyanto melalui pribadi WA, Senin (4/10/26) siang. (*)


Editor: Elha Hidayat

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.