Lumajang,- Di tengah gempuran modernisasi dan maraknya usaha kekinian, lapak sederhana di pertigaan Jalan Dr. Sutomo, Kelurahan Tompokersan, Kabupaten Lumajang, menjadi saksi bisu ketangguhan warisan keluarga.

Di atas trotoar tersebut, Nanik bersama suaminya, Gombloh, terus merajut benang demi benang untuk menyambung napas usaha jahit sepatu yang telah berdiri selama hampir 80 tahun.

Bagi Nanik, setiap jahitan bukan semata-mata mengumpulkan rupiah, melainkan merawat sejarah.

Usaha ini pertama kali dirintis oleh orang tuanya yang merantau dari Magetan ke Lumajang pada tahun 1946—tepat di era awal kemerdekaan Indonesia.

“Orang tua saya asalnya Magetan, sekira tahun 1946 pindah ke Lumajang, buka usaha jahit sepatu di depan itu mas, yang sekarang jadi Planet Ban,” tutur Nanik, Rabu (26/8/26).

Berawal dari lapak di depan area yang kini menjadi Planet Ban, keterampilan tersebut diturunkan kepada Nanik yang sudah membantu usahanya sejak kecil hingga mantap meneruskannya selepas lulus SMP.

Berkah di Momen Kemerdekaan

Semangat kemerdekaan selalu membawa angin segar bagi pasangan suami istri ini. Menjelang peringatan HUT ke-81 RI, lapak sederhana mereka dibanjiri warga yang ingin memperkuat sol sepatu untuk berbagai keperluan peringatan agustusan.

Warga datang membawa sepatu lama maupun baru agar diikat benang jahitan yang kuat, siap dipakai untuk upacara, karnaval, hingga lomba baris-berbaris.

Dedikasi Nanik terbukti dari rekam jejaknya. Pada tahun sebelumnya, ia bahkan dipercaya menggarap penjahitan sekitar 90 pasang sepatu baru khusus untuk pasukan pengibar bendera (Paskibra).

“Ya, tahun lalu malah pernah dapat order menjahit 90-an sepatu baru untuk dipakai pasukan pengibar bendera,” cerita Nanik.

Keterbatasan Fisik Tak Surutkan Semangat

Di balik ketukan martil dan gesekan benang, ada perjuangan hidup yang tidak mudah.

Nanik harus merelakan salah satu kakinya diamputasi akibat penyakit diabetes. Namun, keterbatasan fisik tersebut sama sekali tidak memadamkan gigihnya semangat berkarya.

Ditemani Gombloh, pria asal Sidoarjo yang setia mendampinginya, Nanik tetap tekun melayani pelanggan.

Pasangan ini juga melengkapi lapaknya dengan warung kopi dan teh kecil, menciptakan ruang hangat bagi warga sekitar yang ingin bersantai.

“Kita bukanya dari jam 07.00 hingga 16.00 WIB,” jelasnya.

Setiap hari, sejak pagi hingga sore, Nanik membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk terus mandiri dan menjaga warisan leluhur tetap hidup. (*)


Editor: Mohammad S

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.