Probolinggo,- PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 9 Jember terus meningkatkan keselamatan di perlintasan sebidang guna mengurangi risiko kecelakaan dan kejadian temperan antara kereta api dengan kendaraan.
Salah satu upayanya yakni dengan membangun 96 titik PJL yang 3 diantaranya di Probolinggo.
Dari 96 titik tersebut, sebanyak 10 titik menjadi prioritas pembangunan. Saat ini, pembangunan tengah berlangsung dan ditargetkan rampung pada Oktober 2026.
Manager Hukum dan Humas KAI Daop 9 Jember, Cahyo Widiantoro, mengatakan peningkatan keselamatan di perlintasan merupakan hal penting yang tidak dapat ditunda.
Sebab, perlintasan sebidang menjadi salah satu titik rawan apabila tidak digunakan secara disiplin dan sesuai aturan.
“Karena keselamatan merupakan prioritas dalam perjalanan kereta api, sehingga pembangunan PJL ini merupakan langkah nyata KAI untuk meminimalkan risiko kecelakaan di perlintasan sebidang. Kami tidak ingin menunggu sampai ada korban,” kata Cahyo, Sabtu (28/8/26).
Sepuluh titik PJL yang menjadi prioritas pembangunan tersebar di wilayah Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, dan Jember.
Di wilayah Kabupaten/Kota Pasuruan terdapat satu titik, yakni JPL 116 di KM 55+834 antara Bangil-Pasuruan.
Sementara di wilayah Kabupaten/Kota Probolinggo terdapat tiga titik, yakni JPL 160 di KM 80+927 antara Grati-Bayeman, JPL 188 di KM 98+085 antara Bayeman-Probolinggo, serta JPL 27E di KM 117+343 antara Leces-Malasan.
Kemudian di Kabupaten Lumajang, pembangunan dilakukan di JPL 49 KM 131+241 antara Ranuyoso-Klakah.
Sedangkan di wilayah Kabupaten Jember terdapat lima titik, yakni JPL 85 KM 161+544 antara Jatiroto-Tanggul, JPL 170 KM 207+129 antara Arjasa-Kotok, JPL 114 KM 179+933 antara Bangsalsari-Rambipuji, JPL 9 KM 05+440 antara Kalisat-Ledokombo, serta JPL 23 KM 11+504 antara Ledokombo-Sempolan.
“Setelah 10 titik prioritas selesai, pembangunan akan dilanjutkan pada 86 titik lainnya hingga seluruh 96 titik yang telah diverifikasi mendapatkan penanganan sesuai prioritas dan kesiapan masing-masing,” kata Cahyo.
Selain membangun 96 titik JPL, KAI Daop 9 Jember juga telah merekrut 400 orang untuk mendukung kebutuhan pengelolaan perlintasan tersebut.
Agar sesuai standar keselamatan, pengelolaan JPL dilakukan langsung oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero).
Cahyo mengatakan pembangunan dan pengelolaan JPL tersebut tidak lepas dari masih adanya kejadian temperan antara kereta api dengan kendaraan. Pada 2026 tercatat telah terjadi empat kejadian, sedangkan sepanjang 2025 terdapat 19 kejadian temperan.
“Salah satunya terjadi pada 2025 di JPL 170 antara Arjasa dan Kotok, ketika kereta api tertemper sepeda motor. Meski tidak ada korban, hal ini menjadi perhatian KAI. Kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi, sehingga pencegahan dilakukan sebelum terjadi kejadian serupa,” imbuhnya. (*)












