Probolinggo,- Tingkat inflasi Kota Probolinggo pada Juni 2026 mengalami peningkatan menjadi 0,18 persen secara month to month (mtm), dibandingkan Mei 2026 yang tercatat hanya 0,03 persen.
Peningkatan tersebut diketahui berdasarkan rilis yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Probolinggo.
Beberapa kelompok pengeluaran yang memberikan andil terhadap kenaikan inflasi di Kota Probolinggo antara lain kelompok transportasi sebesar 0,10 persen, disusul kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,08 persen.
Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang inflasi sebesar 0,04 persen. Sementara empat kelompok lainnya, termasuk kesehatan, masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,01 persen.
“Kenaikan inflasi tertinggi berasal dari kelompok transportasi akibat naiknya harga BBM secara nasional,” ujar Kepala BPS Kota Probolinggo, Joko Santoso, melalui rilis tertulisnya, Kamis (2/7/26)
“Sedangkan dari sisi komoditas, dipengaruhi kenaikan harga kebutuhan pokok seperti bawang putih, beras, bawang merah, dan daging,” imbuhnya.
Joko menjelaskan, di tengah kenaikan inflasi tersebut terdapat sejumlah komoditas yang menahan laju inflasi atau menyebabkan deflasi.
Dintaranya daging ayam ras dengan andil deflasi sebesar 0,09 persen, emas perhiasan sebesar 0,04 persen, cabai rawit sebesar 0,02 persen, serta sawi hijau dan tomat yang masing-masing sebesar 0,01 persen.
Menurutnya, penurunan harga daging ayam ras dipengaruhi oleh liburnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang bertepatan dengan masa libur sekolah, serta melimpahnya pasokan di pasaran.
“Dengan inflasi Juni 2026 ini, Kota Probolinggo berada di peringkat keenam di bawah Kabupaten Gresik di antara kabupaten/kota di Jawa Timur. Angka inflasi tersebut juga masih berada di bawah target inflasi pemerintah sebesar 2,5 persen,” imbuh Joko.
Selain mencatat inflasi bulanan, Kota Probolinggo juga mengalami inflasi tahunan atau year to year (yoy) sebesar 2,92 persen, yang dihitung dari Juni 2025 hingga Juni 2026.
Angka tersebut menunjukkan harga barang dan jasa secara umum masih mengalami kenaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. (*)












