Oleh: Zainul Mustofa


Belakangan ini, ada fenomena yang patut direnungkan dalam dunia pendidikan. Guru semakin sering meminta maaf kepada wali murid.

Bukan hanya ketika ada kekurangan dalam pelayanan, tetapi bahkan ketika menjalankan tugas mendidik, menegur, atau menanamkan disiplin. Seolah-olah guru harus selalu menjaga perasaan orang tua agar tidak menimbulkan keberatan.

Sikap rendah hati memang merupakan akhlak yang mulia. Namun, apabila permintaan maaf muncul karena guru merasa takut menjalankan amanahnya sebagai pendidik, maka pendidikan sedang menghadapi tantangan yang lebih dalam: bergesernya kewibawaan guru.

Dalam tradisi Islam, kedudukan guru sangatlah luhur. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa guru adalah pewaris tugas para nabi (waratsatul anbiya’), bukan sekadar pengajar yang menyampaikan pengetahuan.

Tugas guru adalah membentuk akhlak, meluruskan perilaku, dan membimbing manusia menuju kebaikan. Karena itu, proses pendidikan tidak selalu identik dengan kenyamanan, tetapi sering kali membutuhkan nasihat, ketegasan, dan pembiasaan.

Demikian pula Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa krisis terbesar umat bukanlah kekurangan ilmu, melainkan hilangnya adab (loss of adab).

Ketika penghormatan kepada guru mulai berkurang, ketika otoritas pendidikan dipandang sebatas penyedia layanan, maka ilmu kehilangan keberkahannya. Pendidikan berubah menjadi transaksi, bukan transformasi.

Hubungan antara guru dan wali murid sesungguhnya adalah kemitraan. Orang tua adalah pendidik pertama, sedangkan guru adalah mitra yang melanjutkan amanah tersebut di lingkungan sekolah.

Jika hubungan itu dibangun atas dasar saling percaya, komunikasi yang baik, dan penghormatan terhadap peran masing-masing, maka anak akan memperoleh pendidikan yang utuh.

Sebaliknya, apabila guru selalu dihantui kekhawatiran setiap kali menegur murid, maka perlahan sekolah akan kehilangan fungsinya sebagai tempat pembentukan karakter.

Disiplin akan dianggap sebagai ancaman, sementara pendidikan hanya diukur dari tingkat kepuasan layanan.

Padahal, Rasulullah ﷺ bersabda:

«”Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak para ulama.” (HR. Ahmad)»

Hadis ini mengajarkan bahwa penghormatan kepada orang-orang yang mengemban amanah ilmu, termasuk guru, merupakan bagian dari adab yang harus ditanamkan sejak dini.

Guru tentu bukan manusia yang sempurna. Mereka tetap membutuhkan kritik, evaluasi, dan peningkatan kualitas. Akan tetapi, kritik hendaknya menjadi sarana memperbaiki pendidikan, bukan melemahkan martabat pendidik.

Sudah saatnya kita membangun kembali budaya saling percaya antara sekolah dan keluarga. Guru tidak perlu takut menjalankan tugas mendidik, sementara wali murid tidak perlu ragu memberikan dukungan kepada guru yang bekerja dengan niat tulus.

Sebab, masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum yang baik atau teknologi yang canggih, tetapi juga oleh kokohnya adab dalam memuliakan ilmu, menghormati guru, dan memperkuat sinergi antara sekolah dan keluarga.

Ketika guru dihormati dan orang tua menjadi mitra sejati, di situlah peradaban yang bermartabat sedang dibangun.

*Wakil Ketua Bidang SDM dan Pendidikan PCNU Lumajang

Editor: Mohammad S

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.