Probolinggo,– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda baru saja mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan lebat yang bakal mengguyur sejumlah daerah di Jawa Timur, termasuk Probolinggo.
Menariknya, meski awan mendung mulai bergelayut, geliat aktivitas di pesisir Probolinggo tidak lantas lumpuh. Para nelayan setempat terpantau tetap nekat melaut demi menjemput rezeki.
Berdasarkan rilis resmi BMKG Juanda, fenomena hujan yang turun di tengah musim kemarau ini dipicu oleh aktivitas gelombang Rossby.
Aktivitas atmosfer ini diperkirakan masih akan memengaruhi cuaca di wilayah Jawa Timur hingga beberapa hari ke depan, membawa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Pihak Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Probolinggo pun membenarkan adanya perubahan cuaca ini. Berdasarkan hasil pantauan, langit Probolinggo memang mulai ditutupi awan tebal.
“Saat ini terpantau ada tutupan awan tebal dengan suhu udara berkisar di angka 28 derajat Celsius. Namun, untuk kecepatan angin dari arah utara relatif tenang, yakni sekitar 4 knot, dengan tinggi gelombang laut yang masih sangat rendah, sekitar 0.3 meter,” ujar Hendra Yulisprianto, Humas KSOP Kelas IV Probolinggo, Jum’at (12/6/26).
Utamakan Keselamatan
Meski tinggi gelombang dan angin di perairan Probolinggo saat ini terbilang masih bersahabat bagi para pelaut, KSOP tidak ingin kecolongan.
Otoritas pelabuhan tetap mengeluarkan imbauan tegas agar para nelayan dan operator kapal tidak meremehkan alam. Seluruh kapal yang bertolak harus dipastikan dalam kondisi prima dan memenuhi persyaratan kelayakan berlayar.
Kapal dilarang keras mengangkut penumpang maupun barang melebihi kapasitas (overload). Khusus kapal penumpang, seluruh penumpang wajib mengenakan jaket pelampung (life jacket).
“Pelayaran harus segera ditunda atau dihentikan jika cuaca tiba-tiba memburuk di tengah laut,” ucap Hendra.
Peringatan BMKG rupanya belum menyurutkan semangat para nelayan di Kota Probolinggo. Alasan utamanya adalah faktor ekonomi; saat ini laut Probolinggo sedang ‘banjir’ ikan.
Kondisi gelombang yang relatif tenang membuat para nelayan merasa momen ini terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Banyak nelayan yang justru tetal melaut, bahkan.ada yang sampai menginap di laut selama tiga hingga empat hari.
“Selain karena ikannya lagi banyak, sebagian besar kapal nelayan di sini adalah jenis jonggrang yang memang sangat aktif beroperasi pada musim-musim seperti sekarang,” ungkap Muhammad Rudi, salah seorang nelayan asal Mayangan.
Aktivitas di Pelabuhan Tanjung Tembaga pun hingga kini masih berjalan normal. Para nelayan berharap, fenomena gelombang Rossby ini tidak membawa badai besar.
“Agar kami bisa pulang membawa hasil tangkapan yang melimpah dengan selamat,” Rudi memungkasi. (*)












