Probolinggo,- Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Probolinggo masa khidmat 2026-2031, resmi dilantik, Minggu (7/6/26) di Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Mukhlashin Tegalsiwalan.
Pelantikan sekaligus Musyawarah Kerja Cabang (Musykercab) ke-1 ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, bersama Wakil Ketua Umum PBNU, KH Amin Said Husni.
Dalam forum tersebut, Gus Yahya—sapaan akrab KH Yahya Cholil Staquf—menyampaikan arahan strategis mengenai masa depan organisasi. Salah satu yang paling ia tekankan adalah penguasaan teknologi digital.
“Kita harus pahami zaman ini. Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan jam’iyah adalah tuntutan zaman. Kalau tidak, kita akan tertinggal oleh zaman. Apalagi kita warisi jam’iyah raksasa,” kata Gus Yahya.
Oleh karenanya, ia mengapresiasi NUSA Pro, sebuah aplikasi berbasis web, yang dilaunching dalam kegiatan tersebut. Apalagi, dengan menggandeng perguruan tinggi dalam operasionalnya.
Menurut Gus Yahya, inisiatif tersebut menjadi sarana cerdas untuk menata kerja, menjaga amanat keuangan, serta memantau pergerakan MWC dan lembaga di lingkungan PCNU Kabupaten Probolinggo.
“Ini menunjukkan bahwa semangat untuk beradaptasi dan mengadopsi berbagai instrumen yang diperlukan untuk menuju arah yang lebih baik,” tandas Gus Yahya.
Survei terakhir menunjukkan 57,2 persen dari seluruh populasi Muslim di Indonesia mengaku sebagai warga NU, atau lebih dari 130 juta jiwa. Dari jumlah itu, terdapat 38 PWNU, 548 PCNU, sekitar 7.000 MWC, dan 61.000 ranting.
“Kita juga memiliki unit layanan yang raksasa, lebih dari 28 ribu pesantren berafiliasi dengan NU, 20 ribu lebih sekolah/madrasah Maarif, 286 PTNU, serta ratusan rumah sakit dan klinik,” bebernya.
Disamping adaptasi dengan teknologi digital, Gus Yahya juga mengingatkan pentingnya ‘Nahdliyin’ (jamaah NU, red), dapat bertransformasi menuju NU ‘Incorporated’.
Dalam konsep ini, semua unit di tubuh NU harus diurus dengan tanggung jawab organisasi dalam satu kesatuan. Dengan ukurannya yang raksasa, tidak mungkin NU dikelola secara manual.
“PBNU telah memutuskan melalui Konbes dan rapat pleno untuk mengembangkan Digdaya NU,” ucap Gus Yahya.
Saat ini, sambung Gus Yahya, memperluas layanan digital sampai MWC dan ranting, merupakan kebutuhan. Bahkan, kader NU harus menjadi mesin kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dapat dicangkokkan ke platform digital.
“Jika selama ini banyak cabang kesulitan mencari admin sistem, sekarang AI bisa menggantikan fungsi admin tersebut. Nanti akan kita bagi nomor WA (WhatsApp, red) khusus yang bisa diajak chatting perihal kebutuhan administrasi kepengurusan,” pungkasnya. (*)












