Probolinggo,– Guna mendengarkan suara masyarakat sekaligus meningkatkan mutu layanan, RSUD Tongas menggelar Forum Komunikasi Publik (FKP) Pelayanan pada Rabu siang (29/7/26).
Bertempat di Ruang Pertemuan Bromo Lantai II RSUD Tongas, agenda bertajuk ‘Reviu Standar Pelayanan RSUD Tongas’ ini menjadi wadah strategis untuk menyerap aspirasi dan masukan dari berbagai pemangku kepentingan.
Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran perwakilan pemerintah desa di sekitar rumah sakit, perwakilan puskesmas, hingga tokoh masyarakat setempat.
Direktur RSUD Tongas, dr. Catur Prangga Wadana, menegaskan komitmennya untuk terus melakukan pembenahan internal demi menghadirkan layanan kesehatan prima, khususnya bagi warga di wilayah barat Kabupaten Probolinggo.
“Dengan peningkatan pelayanan, kualitas SDM, sarana dan prasarana, penambahan dokter spesialis, serta mengusung tagline SIGAP, kami akan terus memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat. Di samping itu, kami juga berupaya menjadi rumah sakit rujukan bagi puskesmas di wilayah barat,” ungkap dr. Catur dalam sambutannya.
Memasuki usianya yang ke-24 tahun, RSUD Tongas kini diperkuat beragam fasilitas medis komprehensif. Mulai dari pelayanan penyakit dalam, bedah, mata, saraf, jantung, hingga bedah plastik.
Penanganan medis tersebut didukung pula oleh layanan penunjang nonmedis seperti radiologi, farmasi, serta laboratorium patologi klinik.
Menyerap Aspirasi dan Kritik Konstruktif
Selain memaparkan program kerja, FKP ini menjadi ruang terbuka bagi peserta untuk menyampaikan keluhan dan sarannya secara langsung.

Salah satu masukan datang dari Kepala Desa Wringinanom, Kecamatan Tongas, Saiful Rizal Habibi. Ia menggarisbawahi penanganan di Instalasi Gawat Darurat (IGD), terutama bagi pasien kecelakaan.
Saiful menceritakan pengalamannya saat mendampingi korban kecelakaan, di mana penanganan sempat terhambat oleh pertanyaan seputar administrasi serta nada bicara petugas yang dinilai kurang humanis.
“Hal-hal seperti ini harus menjadi bahan evaluasi,” cerita Saiful.
Menanggapi sorotan tersebut, Kepala Bagian Umum RSUD Tongas, dr. Heni Lindasari, menjelaskan bahwa secara prosedur rumah sakit selalu memprioritaskan tindakan medis penyelamatan jiwa sebelum mengurus administrasi, sesuai instruksi pimpinan.
Terkait etika komunikasi personel di lapangan, dr. Heni berjanji akan mengambil langkah tegas dan terukur. “Kami akan melakukan evaluasi melalui penerapan sistem reward and punishment sehingga dapat berdampak pada peningkatan kualitas pelayanan. Selain itu, evaluasi juga akan dilakukan secara personal kepada petugas,” terangnya.
Ia menambahkan, IGD merupakan wajah depan pelayanan rumah sakit selain poliklinik rawat jalan. Karena itu, seluruh kritik dan catatan yang masuk dalam forum ini akan segera ditindaklanjuti secara internal.
Dukungan serupa disampaikan oleh Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo, dr. Imelda Kusumaningrum.
Ia berharap hasil diskusi forum ini dapat dikonversi menjadi Prosedur Operasional Standar (SOP) yang lebih baku, responsif, namun tetap fleksibel serta mudah dipahami oleh publik.
“Tujuannya agar masyarakat merasa lebih nyaman ketika membutuhkan layanan darurat. Sebab, IGD merupakan ujung tombak pelayanan di RSUD Tongas,” pungkas dr. Imelda. (*)












