Lumajang,- Ditengah program ketahanan pangam yang dicanangkan pemerintah, para petani di Kabupaten Lumajang justru menghadapi ancaman gagal panen.
Serangan hama wereng dan tikus telah meluas di 17 kecamatan, memangkas hasil panen padi hingga 40-50 persen. Petani kini dihantui gagal panen dan kerugian besar.
Salah seorang kelompok tani di Kecamatan Padang, Tarmidi mengatakan serangan wereng dan tikus kini hampir merata di sebagian besar wilayah pertanian Lumajang.
Menurut dia, hanya beberapa kecamatan seperti Klakah, Ranuyoso, Gucialit, dan Rowokangkung yang relatif belum terdampak secara signifikan.
“Serangan wereng dan tikus hampir merata. Intensitas serangannya sekitar 5 sampai 15 persen dari luas lahan yang ada,” kata Tarmidi, Rabu (1/7/2026).
Dampak serangan itu, cetus Tarmidi, sudah dirasakan petani saat musim panen. Dari lahan seluas setengah hektare, hasil panen kini hanya sekitar delapan kuintal gabah.
“Padi yang sudah panen rata-rata penurunannya 40 sampai 50 persen,” ujarnya.
Kondisi yang lebih mempriharinkan dialami Poniran, petani asal Desa Tekung, Kecamatan Tekung. Ia mengaku dua hektare sawah miliknya gagal panen akibat serangan wereng dan tikus.
“Dua hektare lahan saya gagal panen akibat serangan wereng dan tikus, ini sudah memasuki musim ke tiga. Hasilnya sama rugi dan rugi,” keluh dia.
Menurut Poniran, ancaman terhadap produksi padi belum berhenti. Jika pengendalian tidak dilakukan secara tepat, kerusakan berpotensi meluas hingga ribuan hektare.
“Kalau salah penanganan dan tata pengendaliannya tidak tepat, potensinya bisa ribuan hektare mengalami gagal panen,” ia menyampaikan. (*)












