Surabaya,- Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim dalam memperkuat pengendalian inflasi dan mewujudkan kedaulatan pangan berkelanjutan melalui Etalase Pengendalian Inflasi Kabupaten Kota (EPIK).
Ia menilai, EPIK berbasis mobile menjadi instrumen penting dalam memperkuat sinergi dan mitigasi antar daerah, khususnya untuk menjaga stabilitas harga pangan di Jawa Timur.
“Produksi cabai rawit di Jawa Timur memang tertinggi, tetapi harga di pasar-pasar Surabaya saja bisa berbeda-beda. Karena itu konektivitas antar pasar dan kerja sama antar daerah harus terus diperkuat,” tandas Khofifah saat menghadiri peluncuran Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Wilayah Jawa 2026 di Kantor Perum Bulog Cabang Surabaya, Rabu (13/5/26).
Menurut Khofifah, Pemprov Jatim secara rutin melakukan koordinasi pengendalian inflasi bersama pemerintah pusat dan Bank Indonesia guna memantau komoditas volatile food yang kerap memicu gejolak harga di sejumlah daerah.
Selain fokus pada pengendalian inflasi, Khofifah juga menyoroti pentingnya penguatan pangan berbasis protein.
Ia menyebut keberadaan Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari menjadi salah satu faktor utama tingginya populasi sapi potong dan sapi perah di Jawa Timur.
“Dengan dukungan inseminasi buatan, saya optimistis dalam tiga tahun Indonesia bisa mencapai swasembada daging,” beber eks Ketua Umum PP Muslimat NU ini.
Menurut Khofifah, BBIB Singosari selama ini telah menjadi pusat pelatihan inseminasi buatan dan pengawasan kebuntingan bagi berbagai daerah di Indonesia.
Bahkan, Jawa Timur juga aktif mendampingi daerah lain melalui tenaga inseminator dan pengawas kebuntingan.
Disamping itu, permintaan kambing dan domba dari luar negeri seperti Malaysia, Brunei, hingga negara-negara Timur Tengah juga dinilai terus meningkat.
Menurutnya, ekspor ternak hidup menjadi peluang besar dalam memperkuat ekonomi peternakan nasional.
Di sektor pertanian, Khofifah menilai modernisasi alat pertanian menjadi langkah penting untuk meningkatkan produktivitas.
Ia mencontohkan penggunaan combine harvester yang mampu menekan kehilangan hasil panen hingga 10 persen.
“Tanpa ekstensifikasi maupun intensifikasi, hanya dengan cara panen yang tepat, hasil produksi bisa meningkat signifikan,” tutur Khofifah.
Dikatakannya, Jawa Timur saat ini tidak hanya berfokus pada ketahanan pangan, tetapi telah bergerak menuju kedaulatan pangan berkelanjutan.
“Insya-Allah Jawa Timur bukan lagi sekadar ketahanan pangan, tetapi sudah menuju kedaulatan pangan berkelanjutan dengan dukungan seluruh elemen strategis,” ia memungkasi. (*)












